WAKTU KEHIDUPAN

Penelitian Tindakan Kelas : PBL

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS DENGAN
IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING 
DI SMP MUHAMMADIYAH  SEMIN
KABUPATEN GUNUNGKIDULTAHUN 2009/2010

Oleh Sudadi, M.Pd.


BAB  I
PENDAHULUAN   

A. Latar Belakang Masalah
            Salah satu masalah urgen yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran dikelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi  yang diingatnya itu. Proses pembelajaran yang berjalan saat ini secara umum masih menempatkan anak sebagai obyek dan menempatkan guru pusat kegiatan pembelajaran. Peserta didik tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat berpartisipasi secara aktif untuk mengkonstruksi pengetahuan yang didapatnya.
           Sejalan dengan pernyataan diatas Willaiam Burton menyatakan  “ Teaching is the guidance of learning activities”  mengajar pada hakekatnya adalah membimbing  kegiatan siswa belajar (Saidihardjo : 2004 : 13 ). Dengan demikian pembelajaran idealnya berpusat pada siswa bukan pada guru. Dalam kaitanya dengan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial lebih lanjut Saidihardjo menjelaskan bahwa rasional Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada pendidikan dasar dan menengah ditekankan pada siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna ; lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial rasional dan bertanggung jawab; meningkatkan rasa toleransi dan persaudaraan dilingkungannya sendiri dan antar manusia (Saidihardjo : 2004 : 31 ).
            Kondisi ideal yang diharapkan dari hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di persekolahan dianggap belum sesuai dengan harapan, bahkan beberapa temuan penelitian dan pengamatan para ahli pendidikan memperkuat kesimpulan bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Indonesia belum maksimal karena perwujudan nilai-nilai sosial yang dikembangkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial masih belum begitu nampak aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Ketrampilan sosial para siswa lulusan masih memprihatinkan, terbukti dengan partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan semakin menyusut. Banyak penyebab yang melatarbelakangi mengapa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial belum dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal pada kurikulum, rancangan, pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran lainnya.
        Mencermati dari permasalahan tersebut diatas maka perlu adanya strategi metode pembelajaran yang mampu menarik siswa untuk mengembangkan  kemampuannya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.  Dalam pandangan penulis salah satu alternative untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa yakni dengan mengimplementasikan metode pembelajaran problem based learning.  Problem based learning  adalah  lingkungan belajar yang didalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran yang dipelajari ( Sudarman , 2007 : 69 ).
               Dengan implementasi model pembelajaran problem based learning diharapkan pembelajaran menjadi lebih hidup dan aktif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa  yang pada akhirnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa  dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul  Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
        Berdasarkan  dari uraian pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana implementasi pembelajaran dengan metoda problem based learning  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
2. Bagaimana implementasi pembelajaran metoda problem based learning  dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
3. Bagaimana implementasi pembelajaran metode problem based learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
C. Rencana Pemecahan Masalah
        Rencana pemecahan masalah yang akan digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning. Dengan problem based learning diharapkan  motivasi, aktivitas dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat meningkat dari siklus I sampai pada siklus berikutnya, dibandingkan dengan kondisi awal yang masih menggunakan pembelajaran konvensional.
D. Tujuan Penelitian
         Selaras dengan apa yang telah tertuang dalam latar belakang masalah pembatasan masalah dan perumusan masalah maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode problem based learning pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  kelas IX A  di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
2. Meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode problem based learning  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
3. Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode problem based learning  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
E. Manfaat Penelitian   
1. Manfaat teoritis
2.  Mendukung teori – teori pembelajaran kontekstual dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
a. Sebagai referensi ilmiah bagi para peneliti lain yang berupaya mengembangkan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.
b.  Mengembangkan strategi belajar mengajar khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
3. Manfaat praktis
a.  Bagi sekolah hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam upaya meningkatkan kinerja sekolah dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
b. Bagi guru dapat dijadikan referensi acuan dalam upaya peningkatan  pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial agar dapat lebih effektif, kreatif dan lebih menarik.
c.   Dapat mengevaluasi berbagai kelemahan siswa dan guru atas hasil belajar yang dicapai sebagai bahan pertimbangan untuk pembelajaran selanjutnya.
d. Mengembangkan kecakapan hidup melalui pemikiran kritis dalam pemecahan masalah.
F. Hipotesis Tindakan   
Berdasarkan kerangka berfikir sebagaimana terurai diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
a) Implementasi metode Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX A  di SMP Muhammadiyah  Semin Gunungkidul.
b) Implementasi metode Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar  siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX A di SMP Muhammadiyah  Semin Gunungkidul
c) Implementasi metode Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX A  di SMP Muhammadiyah  Semin Gunungkidul

BAB  II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian  Teori
1. Konsep Belajar dan Pembelajaran
a. Pengertian Belajar
       Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan (Suprayekti : 2004: 2). Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, ketrampilan dan sikap. Belajar juga dapat dipahami sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Tim Penulisan Buku Psikologi Pendidikan :1991:61). Dengan ungkapan lain Martinis Yamin( 2007: 96) mengungkapkan belajar merupakan proses memperoleh kecakapan, ketrampilan, dan sikap.
    Lebih lanjut  Hilgard  (1981: 11) menjelaskan bahwa belajar adalah :   
Learning refers to the change in subject’s behavior or behavior potential to agiven situation brought about by the subject’s repeated experience in that situation, provided that the behavior change cannot be explained on the basis of subject’s  native response tendencies, maturation, or temporary states ( such as fatigue, drunkenness, and so on).
    Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik garis kesimpulan  bahwa belajar itu mempunyai ciri-ciri atau karakteristik yaitu : Pertama belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkahlaku. Ini artinya hasil belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku. Kedua Perubahan perilaku relative permanen ini berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk jangka waktu tertentu. Ketiga tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relative menetap, baik yang dapat diamati maupun  yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.
b. Pengertian Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar .Interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran (Saidihardjo : 2004 : 13). Pembelajaran merupakan proses membuat orang belajar dengan merekayasa lingkungan untuk memudahkan orang belajar. Kegiatan pembelajaran berupaya merumuskan cara terbaik agar individu dapat belajar dengan mudah. Pendidik bukan hanya berfungsi memberikan materi saja melainkan memanfaatkan segala potensi lingkungan belajar (media, sumber informasi belajar, dan lainnya) bagi pencapaian tujuan belajar yang diharapkan. Bruce weil ( Wina sanjaya : 2008: 216-217) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran; pertama proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Kedua berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang dipelajari, yaitu pengetahuan : fisis, social dan logika. Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan social.
    Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  itu mempunyai karakter pokok pertama meningkatkan dan mendukung proses belajar siswa.kedua adanya interaksi yang dilakukan dengan sengaja. Interaksi ini terjadi antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajar, baik dengan guru siswa lainnya atau sumber belajar lainnya.   
c.  Motivasi
    1) Pengertian Motivasi
    Dalam kamus besar Bahasa Indonesia motivasi diartikan sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia : 1995 : 666). Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat diartikan sebagai daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari akar kata motif inilah motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif .   
    2)Fungsi Motivasi dalam Belajar
    Menurut Sardiman A.M., (2003:85), ada tiga fungsi motivasi, yaitu :
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai rumusan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tersebut.
    Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ketiga, Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
    3) Unsur –unsur yang mempengaruhi motivasi Belajar
          Dimyati dan Mudjiono (2002 : 97-100) menyatakan bahwa unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut :
a) Cita-cita atau aspirasi siswa
b) Kemampuan siswa
c) Kondisi siswa
d) Kondisi lingkungan siswa
e) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
f) Upaya guru dalam membelajarkan siswa
    4) Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar
            Dalam proses interaksi belajar mengajar, naiknya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong siswa agar tekun belajar. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada di antara siswa yang kurang berminat mengikuti pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing siswa dalam belajar.
       Menurut Sardiman (2003 : 92-95), ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar siswa di kelas, yaitu :
a) Memberi angka
b) Hadiah
c) Kompetisi
d) Ego-involment
e) Memberi ulangan
f) Mengetahui hasil test
g) Pujian
h) Hukuman
i) Hasrat untuk belajar
j) Minat
k) Tujuan yang diakui
    5) Ciri-ciri siswa yang mempunyai motivasi   
            Menurut Sardiman A.M. (2003 : 83), ciri-ciri orang yang memiliki motivasi adalah sebagai berikut :
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai)
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan dengan prestasi yang sudah dicapainya)
c. Menunjukkan minat terhadap beracam-macam masalah untuk orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadailan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak criminal, amoral dan sebagainya).
d. Lebih senang kerja mandiri
e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sejhingga kurang kreatif)
f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
h. Senang mencari dan memecahkan masalah /soal-soal.
       Berdasarkan uraian diatas maka disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga siswa menjadi tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja sendiri, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini, senang mencari dan memecahkan soal-soal.
      
d. Aktivitas dalam belajar
    Aktivitas belajar yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam realitanya kedua hal tersebuat saling berjalin berkelindan apalagi dalam kegiatan aktivitas belajar. Menurut Piaget seorang anak itu berfikir sepanjang ia berbuat , tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berfikir ( Sardiman : 2003 : 100). Maka agar anak berfikir sendiri guru harus memberi kesempatan untuk berbuat sendiri.    Berfikir pada tahap verbal baru akan dapat dilakukian anak setelah anak itu berfikir pada taraf perbuatan. Hubungan antar kegiatan fisik dan mental akan membuahkan hasil belajar yang optimal. Aktivitas belajar akan dapat berjalan dengan baik manakala peserta didik memiliki minat yang besar terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung, sehingga menumbuhkan minat siswa menjadi kegiatan kunci untuk menghantarkan siswa pada aktivitas belajar ( Suyanto dan MS Abbas : 2001 : 66). Berkaitan dengan aktivitas belajar Mehl-Millis-Dauglas mengungkapkan mengenai The Principle of Activity yaitu
    ” One learns only by some activities in the neural system : seeing, hearing, smelling, feeling, thinking, phycal or motor activity. The learner must activelly engage in the ”learning” wheter it be of information a skill, an understanding , a habit, an ideal, an attitute, an interest, or the nature of task. (Oemar Hamalik:2007: 172). 
            Penggunaan asas aktivitas dalam pembelajaran akan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi keberhasilan peserta didik karena dengan terlibatnya siswa secara riil dalam kegiatan pembelajaran siswa dapat menggali pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri, siswa dapat berbuat sendiri sehingga akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral. Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya (Shvoong : 2010 :1 ).
        Paul D. Dierich, dalam Oemar Hamalik (2001 : 172) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu (1) Kegiatan-kegiatan Visual, Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan bermain. (2) Kegiatan-kegiatan Lisan (oral) Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi. (3) Kegiatan-kegiatan  mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.(4) Kegiatan-kegiatan menulis : Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket. (5.) Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola. (6) Kegiatan-kegiatan metric: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun. (7) Kegiatan-kegiatan mental : merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan.( 8) Kegiatan-kegiatan emosional minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.
    Berdasarkan pengertian aktivitas tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.
e. Prestasi Belajar   
        Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya kegiatan  belajar yang telah dilakukan. Muray dalam Beck  mendefinisikan prestasi  :
“To overcome obstacle, to exercise power, to strive to do something difficult as well and as quickly as possible” “Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin” (Sunarto : 2009:1).
        Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas belajar, karena aktivitas belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan.
        Ada korelasi antara motivasi untuk berprestasi dengan prestasi belajar, dalam hubungannya dengan masalah ini Johnson mengungkapkan “
The theory of achievement motivation … does not say that there should be a general relationship between achievement motivation and academic performance. On the contrary, it states that under certain conditions, there will be a strong relationship, under other conditions there will be no relationship (Djaali : 2007 : 110).
        Korelasi antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar akan amat tergantung dengan  kondisi dalam lingkungan dan kondisi individu yang bersangkutan. Motivasi yang tinggi yang tidak mendapat kondisi lingkungan yang mendukung akan sulit melahirkan prestasi belajar yang baik. Sehubungan dengan prestasi belajar, Ngalim Poerwanto (2006:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.”
        Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
3. Problem Based Learning
a. Pengertian Problem Based Learning
Problem-based learning (PBL) is a student-centered instructional strategy in which students collaboratively solve problems and reflect on their experiences.(Wikipedia : 2010 : 1) Dalam ungkapan hampir senada dalam artikel University Deware diungkapkan “Problem-based learning (PBL) is an instructional method that challenges students to "learn to learn," working cooperatively in groups to seek solutions to real world problems. (University Delaware : 1999 : 1)
        Problem based learning atau strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) memiliki tiga ciri utama  yaitu : pertama SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran ini artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah aktivitas yang haris dilakukan siswa. Kedua  aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah karena dalam SPBM menempatkan masalah sebagai kunci dari proses pembelajaran. Ketiga pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir ilmiah (Wina Sanjaya : 2008 : 214).  Problem Based Learning (PBL) merupakan metoda pembelajaran berdasarkan pada prinsip penggunaan kasus (masalah) sebagai titik pangkal untuk mendapatkan dan mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang baru (HS. Barrows, 1982 dalam Ahmad aulia Yusuf : 2009).  Kiley, M., Mulins, G., & Peterson, R. and Tim Rogers  menjelaskan mengenai problem based learning
        “In problem-based learning students learn to be self-directed, independent and interdependent learners motivated to solve a problem. In a PBL course student meet together in small group with a tutor to discuss a set problem. Initially the student explore the problem and formulate hypotheses that might explain the problem. They use this information to determine the further information they require to understand and solve the problem. Student then independently research and gather information that confirms/disconfirms their hypotheses and generates new understandings. These new understandings are presented to the group, which then considers all the information brought in by its members” (Kiley, M., Mulins, G., & Peterson, R. and Tim Rogers, 1969:1 dalam Wahyudi : 2009 : 1).   
    
b. Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning
        Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, (Aston L. Toruan : 2007 :5) dalam kaitanya pembelajaran dengan model Problem Based learning  yaitu :Learning to know, Learning to do Learning to do , Learning to live together , Learning to be . Pertama, Learning to Know yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan. Kedua, Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik. Ketiga, Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka. Keempat, Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi). Di dalam Harian Jakarta Post berkaitan dengan Pembelajaran dengan Model Prolem based learning dinyatakan  “This highlights that PBL is an effective method to encourage students to analyze and think critically. And it is hoped that by thinking critically, in the future, people (students) would not simply imitate existing mathematical methods, but would create and pioneer new approaches.” ( The Jakarta Post : Tue, 02/09/2010)
B. Kerangka Berfikir
    Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes, unjuk kerja (performance), penugasan (Proyek), hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.
       Pembelajaran model Problem Based Learning berlangung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa megerti apa makna belajar, apa manfaatya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang bergua bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide.

DAFTAR PUSTAKA

Arief Achmad MSP, (2004), Quo Vadis, Pendidikan IPS  Di Indonesia, Artikel  diakses pada tanggal 17 Januari 2010 dari http://re-searchengines.com/ mangkoes6-04-4.html
Asri Budiningsih, (2005) Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta, PT Rineka Cipta
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, (2007) Teori Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta, Arr-Ruzz Media
Barbara K. Given, (2007). Brain, Based Teaching, Bandung. Kaifa
Basuki Wibawa (2004) Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Depdiknas
Bower, H.G & Higard, R.E. (1981) Theories of learning, London : Prentice Hall inc
Depdiknas, (2007) Buku Saku KTSP SMP, Jakarta, Depdiknas.
Depdiknas, (2006) Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP/MTs/SMPLB, Jakarta. Depdiknas
Depdiknas (2004) Kurikulum -2004 Standar Kompetensi SMP dan  MTs, Jakarta, Dharma Bhakti
Dimyati dan Mudjiono, (2006). Belajar Dan Pembelajaran, Jakarta,  PT  Rineka Cipta
Djaali, (2007) Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT Bumi Aksara
Hery Sukarman, (2004) Dasar-Dasar Pembelajaran, Jakarta Depdiknas
Margaret E. Bell Gredler, (1994) Belajar dan Membelajarkan, Jakarta, Raja Gafindo Persada
Martinis Yamin, (2007) Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, Jakarta, Gaung Persada Press
Masnur Muslich, (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Jakarta. PT Bumi aksara
Ridwan Effendi, Sapriya, Bunyamin Maftuh, (2009) Pengembangan Pendidikan IPS SD, Makalah pdf sebagai pegangan Belajar Jarak Jauh.
Rochiati Wiraatmadja, (2006), Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Roger G. Hadgraft, (1998), Problem-based Learning: A Vital Step
Towards a New Work Environment. Jurnal diakses tanggal 13 Februari 2010 dari : http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/ files/ijee/ijee1000.pdf
Saidihardjo, (2004) Pengembangan Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial, Yogyakarta UNY
Sardiman AM, (2004) Interaksi Motivasi dan Belajar Mengajar, Jakarta, Raja Garatindo
Suchaini,(2008) Pembelajaran Berbasis Masalah, Artikel diakses tanggal 11 Februari 2010 dari http://suchaini .wordpress.com/tag/teoripembelajaran.
Sudarman, (2007) Problem Based Learning:  Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan  Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah diakses tanggal 13 Februari 2010 dari http://jurnaljpi.files.wordpress.com/ 2009/09/vol-2-no-2-sudarman.pdf
Sudjatmiko dan Lili Nurlaili, (2004) Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta, Depdiknas
Suharsimi Arikunto. (2003). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sukardi (2005). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, Jakarta, PT Bumi Aksara.
Sumadi Suryabrata, (1990), Psikologi Pendidikan, Jakarta, CV Rajawali
Suprayekti, (2004) Interaksi Belajar Mengajar, Jakarta, Depdiknas
Tim Penulis Buku Psikologi Pendidikan, (1991) Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, UPP IKIP Yogyakarta
Undang-Undang (2003) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Depdiknas RI , Jakarta
Udin S. Winata Putra, (Juni, 2008) Refleksi Tentang Konsep Dan Makna Ilmu Pengetahuan Sosial Sebagai “ Integrated Knowledge System” Makalah disajikan dalam “Stadium Generale” Program Pasca Sarjana Universitas PGRI Yogyakarta
Wikipedia,(2010) Problem based Learning, artikel diakses tanggal 11 februari 2010 dari http://en.wikipedia.org/wiki/problem-based-learning
Wahyudi, (2009) Pengertian Problem Based Learning, artikel diakses tanggal 23 Desember 2009 dari : http://wahyudiuksw.blogspot.com/ 2009/05/ pengertian-problem-based-learning.html
Wina Sanjaya, (2006) Strategi Pembelajaran, Jakarta, Kencana Prenada Group
-----------------, (2008) Kurikulum dan Pembelajaran , Jakarta, Kencana Prenada Group
Winkel, (1996) Psikologi Pengajaran,  Jakarta, Grasindo
Yudrik Jahja (2004) Wawasan Kependidikan, Jakarta, Depdiknas
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TELAGA ILMU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger