WAKTU KEHIDUPAN

Pembelajaran : CTL

KONSEP PEMBELAJARAN
oleh : Sudadi, M.Pd.

Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)  ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.
 Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
         Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar .Interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran (Saidihardjo : 2004 : 13). Pembelajaran merupakan proses membuat orang belajar dengan merekayasa lingkungan untuk memudahkan orang belajar. Kegiatan pembelajaran berupaya merumuskan cara terbaik agar individu dapat belajar dengan mudah. Pendidik bukan hanya berfungsi memberikan materi saja melainkan memanfaatkan segala potensi lingkungan belajar (media, sumber informasi belajar, dan lainnya) bagi pencapaian tujuan belajar yang diharapkan.
         Pembelajaran yang berlaku saat ini berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing masing satuan pendidikan ( Buku Saku KTSP SMP : 2006:1). KTSP merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan dalam suatu aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. KTSP merupakan KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan standar isi dan standar kompetensi lulusan.  Dalam konteks implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan mengajar harus dimaknai tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran namun harus dimaknai sebagai proses mengatur lingkungan yang dengan lingkungan itu siswa terdorong dan terkondisi untuk belajar, pemahaman semacam ini sering disebut dengan pembelajaran.
         Bruce weil ( Wina sanjaya : 2008: 216-217) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran; pertama proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Kedua berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang dipelajari, yaitu pengetahuan : fisis, social dan logika. Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Dengan kata lain proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik Maka guru tidak lagi dipandang sebagai “orang yang paling tahu segalanya” melainkan banyak berperan sebagai fasilitator terjadinya proses belajar dan peserta didik secara kontinu berupaya meningkatkan kemampuannya. Oleh karena itu pemilihan metode pembelajaran harus dapat memberikan peluang pada peserta didik untuk aktif dan kreatif meningkatkan hasil belajar. Metode pembelajaran perlu menekankan keterampilan memproses agar peserta didik mampu menemukan, membangun, dan mengembangkan pengetahuan maupun kemampuan yang di miliki.
         Maka pembelajaran harus dimaknai sebagai proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula.
    Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  itu mempunyai karakter pokok pertama meningkatkan dan mendukung proses belajar siswa.kedua adanya interaksi yang dilakukan dengan sengaja. Interaksi ini terjadi antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajar, baik dengan guru siswa lainnya atau sumber belajar lainnya.
    Dalam pembelajaran idealnya guru dapat menciptakan situasi yang kondusif serta memberi motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitasnya. Jadi pembelajaran dilihat dari sisi guru adalah menumbuhkan proses belajar siswa ,tidak hanya menyampaikan pelalajaran dan semata-mata mengejar target kurikulum. Karena mengajar adalah
mengatur dan mengkondisikan  lingkungan belajar siswa sehingga terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Agar kegiatan pembelajaran mampu mengembangkan dan meningkatkan kecakapan hidup peserta didik maka pembelajaran seharusnya : pertama, berpusat pada peserta didik, kedua mengembangkan kreativitas peserta didik, ketiga menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang, ke-empat, bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika, kelima, menyediakan pengalaman belajar yang beragam (Sudjatmiko dan Lili Nurlaili : 2004 : 11-12).
    Dalam teori belajar sosial , komponen – komponen pembelajaran adalah : mengenali model yang patut dikelas (2) menentukan nilai fungsional tingkah laku (3) menjalankan pengolahan kognitif pada si pebelajar (Margaret E. Bell Gredler: 1994 ; 403 ).     Adapun komponen pembelajaran kontekstual meliputi tujuh komponen utama yaitu (1) Constructivism / konstruktivisme, (2) Questioning / bertanya, (3) Inquiry / menyelidiki, menemukan, (4) Learning comunity / masyarakat belajar, (5) Modelling / permodelan, (6) Reflection / refleksi atau umpan balik dan (7) Authentic Assessment / penilaian yang sebenarnya (Masnur Muslich : 2007 : 43).
        Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
              Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
              Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
        Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
        Permodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
        Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
        Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhir periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. Selain tujuh komponen diatas agar pembelajaran dapat guru dituntut mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menanatang, relevan, berkaitan dengan apa yang sudah diketahui siswa dan bisa dicapai, pinjam istilah Vygotsky(1978) ”Zona Perkembangan Proximal” .(Barbara K Given : 2007 : 60). Membangun suasana kelas yang sejuk dan menyenangkan hal ini sangat besar pengaruhnya untuk membangkitkan kemauan atau motivasi anak untuk mengikuti pembelajaran dengan baik (Hery Sukarman : 2004 : 18).
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TELAGA ILMU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger