WAKTU KEHIDUPAN

Makna Puasa

TAFSIR TEMATIK SURAT  2 : 183

Disini kita akan membahas Surat Al Baqarah 183 secara terperinci, yaitu membahas kata per kata, atau frasa per frasa. Penjelasandidasarkan atas ayat-ayat Al Qur’an, kaidah bahasa Arab, dan riwayat-riwayat tertentu. Secara lengkap bunyi ayat tersebut ialah:

Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaquun.
183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Selanjutnya, penjelasannya sebagai berikut:
Ya aiyuha

- Ya aiyuha adalah kata yang digunakan untuk panggilan. Dalam bahasa Arab disebut harfun nida’ (kata panggilan). Ia sama dengan kata “Ya”. Atau dalam bahasa Indonesia, “Hai” atau “Wahai”.
- Dalam Al Qur’an, kita menjumpai penggunaan kata “Ya aiyuha”, seperti pada kata “Ya aiyuhan naas”, “Ya aiyuhal insan”, “Ya aiyuhan Nabiy”, “Ya aiyuhal mudats-tsir”, “Ya aiyuhal muzammil”, dan lainnya. Artinya sama, berupa panggilan kepada pihak-pihak tertentu.
- Biasanya, jika seseorang dipanggil, dia akan bersungguh-sungguh menyambut panggilan itu. Misalnya, dia dipanggil oleh kakak atau adiknya, orangtua, anak dan isterinya, shahabat, tetangga, guru, pak RT, pak RW, dan sebagainya. Semakin terhormat seseorang yang memanggil, semakin besar pula kesungguhannya. Panggilan seorang walikota, bupati, gubernur, menteri, anggota DPR, bahkan seorang presiden, akan disambut dengan penuh kesungguhan.
- Jika terhadap panggilan manusia saja, kita bersungguh-sungguh menyambutnya. Lalu bagaimana jika yang memanggil adalah Allah ? Dia Pencipta langit dan bumi, pemilik alam semesta, pengatur alam seluruhnya, pemberi kehidupan, penentu kematian, kerajaan-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, di Tangan-Nya ditentukan nasib setiap walikota, bupati, menteri, gubernur, presiden, jendral-jendral, George Bush, Vladimir Putin, Hitler, Napoleon, Jengis Khan, Kaisar Nero, Kisra Persi, Fir’aun, Hamman, dan sebagainya. Kira-kira, bagaimana respon kita ketika dipanggil oleh Allah?
- Umumnya manusia sangat bersungguh-sungguh menyambut panggilan para pejabat yang mulia. Tetapi mereka tidak serius ketika menyambut panggilan Allah. “Para pejabat kan jelas orangnya, jelas pengaruhnya, dan bisa ngasih kita duit, kalau hatinya suka ke kita. Sementara Allah tidak terlihat, jadi bagaimana akan serius menyambut panggilan-Nya?” begitu alasan di hati mereka, meskipun lisan tidak berani mengucapkannya.
- Para Shahabat radhiyallahu ‘anhu kalau mendengar panggilan Allah, mereka segera berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (kami sambut panggilan-Mu ya Allah). Begitu pula kalau mereka dipanggil oleh Rasulullah, mereka menjawab, “Labbaik ya Rasulallah!” Mereka meninggikan panggilan Allah dan Rasul-Nya di atas semua panggilan yang lainnya.
- Wallahu a’lam bisshawaab.

Alladzina amanu
- Artinya: “Orang-orang yang beriman.” Sebenarnya lebih tepat disebut: “Orang-orang yang telah mengimani.” Kata ‘amanu’ adalah fi’il madhi, kata kerja yang telah lalu; jadi lebih tepat disebut “telah mengimani”. Kalau subyeknya tunggal, menjadi ‘amana’.
- Dalam Al Qur’an sangat sering dipakai perkataan, “Ya aiyuhal ladzina amanu”. Orang-orang beriman selalu disebut secara jama’ (kolektif). Tidak pernah sekali pun Al Qur’an mengatakan, “Ya aiyuhal mukmin” (wahai seorang Mukmin). Atau tidak pernah dikatakan, “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang mengimani). Selalu dikatakan, “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman). Hal ini mengandung hikmah, bahwa din Islam adalah agama kolektif, agama kebersamaan, bukan agama individu, bukan agama egoisme, bukan agama ta’ashub golongan. Ummat Islam adalah Ummatan Wahidatan (Ummat yang satu), bukanUmmat yang terpecah-belah, atau tersegmentasi menjadi berbagai golongan.
- Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk bersatu padu, menjalin Ukhuwwah Islamiyyah, tidak berpecah-belah dalam agama. Salah satu yang sering dibahas, adalah wasiat Allah kepada para Nabi-nabi dan juga kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Bunyi wasiatnya, “An aqimud din wa laa tatafarraquu fihi” (tegakkanlah agama ini dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya. As Syuraa: 13).
- Sebagian kaum Muslimin ada yang berdakwah dengan membawakan “hadits 73 golongan”. Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk neraka, dan 1 golongan selamat. Hadits ini sangat masyhur, tetapi cara memahaminya seringkali salah. Sebenarnya, hadits itu bermakna khabar (berita), bahwa Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengabarkan, kelak Ummatnya akan berpecah-belah demikian-demikian. Namun oleh sebagian orang, hadits itu justru dipahami sebagai perintah untuk berpecah-belah, menghancurkan persatuan Islam, mengobarkan pertikaian di antara sesama Muslim, terus kembangkan permusuhan dalam diri Ummat. Cara mereka berdakwah mencerminkan pemahaman mereka. Makna hadits itu adalah khabar tentang perpecahan, tetapi aplikasinya justru membuat perpecahan sebanyak-banyaknya. Padahal agama para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam ditegakkan di atas manhaj persatuan, tetapi mereka malah bersuka ria di atas perpecahan. Dari sisi sudah tampak kesesatan jalan itu.Na’udzubillah wa na’udzubillah.
- Siapapun yang membangun agamanya di atas individualisme, egoisme, fanatik golongan, dan tidak kembali kepada asas semula, yaitu persatuan di antara kaum Muslimin, mereka akan tersesat dan dikalahkan. Lihat saja, dalam Al Qur’an Allah selalu memanggil Ummat Islam dengan “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman), bukan “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang beriman). Pemahaman di atas semangat perpecahan itu pasti tidak akanmatchingdengan konsep dasar agama ini, selamanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
- Dalam sebagian literatur disebutkan, bahwa perintah Shiyam Ramadhan pertama kali turun padatahun 2 Hijriyah. Dalam masa 13 tahun Ummat Islam di Makkah, perintah Shiyam Ramadhan belum diturunkan.
- Pada dasarnya, perintah Shiyam Ramadhan menuntut landasan keimanan, sebab kewajiban ini memang tidak ringan. Dalam Rukun Islam, Shiyam Ramadhan menempati posisi ke-4 setelah Syahadat, Shalat, dan Zakat. Tidak dibenarkan seseorang menjalankan Shiyam Ramadhan secara penuh, tetapi dirinya sendiri meninggalkan Shalat Lima Waktu dan kewajiban Zakat. Kecuali bagi anak-anak yang baru belajar puasa, sekedar berlatih menahan makan dan minum. - Wallahu a’lam bisshawaab.

Kutiba ‘alaikum
- Artinya: “Telah diwajibkan atas kalian.” Arti asal dari kata ‘kutiba’ sebenarnya: Telah dituliskan! Dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Kutiba adalah bentuk pasif dari kata ka-ta-ba, sehingga maknanya ‘dituliskan’. (Kalau dalam bahasa Indonesia, kutiba = aku datang. Sekedar humor!).
- Para ahli tafsir telah sepakat, bahwa kata ‘kutiba’ artinya adalah diwajibkan atau difardhukan. Sebagai ibadah wajib, sebagaimana rumus umumnya, jika dikerjakan mendapat pahala besar, jika ditinggalkan berdosa. Shiyam Ramadhan adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang mampu mengerjakannya.
- Ada beberapa ayat dalam Surat Al Baqarah yang mirip bentuk kalimatnya dengan ayat Shaum ini. Dalam ayat 178 disebutkan: “Kutiba ‘alaikumul qishash fil qatla” (diwajibkan atas kalian al qishash dalam pembunuhan); dalam ayat 180: “Kutiba ‘alaikum idza hadhara ahadakumul mautu in taraka khaira, al washiyah” [diwajibkan atas kalian jika datang (tanda-tanda) kematian kepada salah satu dari kalian, yaitu menyampaikan washiyat, jika dia meninggalkan suatu kebaikan (harta benda yang banyak)]; dalam ayat 216: “Kutiba ‘alaikumul qitalu wa huwa kurhul lakum” (diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan berperang itu tidak kalian sukai). Bahkan sejatinya, dalam ayat-ayat Surat Al Baqarah ini adalah “rangkaian kutiba”, sebab berturut-turut disebutkan ayat-ayat tentang kewajiban, meskipun terpisah oleh beberapa ayat lainnya. Ayat Shaum termasuk di dalamnya (ayat 183). Singkat kata, kutiba itu artinya diwajibkan/difardhukan.
- Adapun kalimat ‘alaikum kembali kepada orang-orang beriman.
- Wallahu a’lam bisshawaab.

As shiyamu
-As shiyamu adalah bentuk jama’ (plural) dari kata as shaumu.
- Dalam ayat di atas digunakan kata as shiyamu, bukan shaumu. Memang di bulan Ramadhan terdapat banyak puasa, Ummat Islam berpuasa sebulan penuh, bukan hanya sehari puasa; dan yang berpuasa itu seluruh kaum Muslimin di muka bumi, bukan hanya satu dua orang, atau sekelompok orang saja.
- Kata shaum menurut para ulama maknanya al imsak(menahan diri). Hal ini sama dengan istilah waktu imsak yang sering kita dengar, yaitu waktu 10 atau 15 menit menahan makan-minum sebelum adzan Shubuh. Sama-sama memakai kata al imsak yang berarti menahan diri.
- Kemudian coba perhatikan lagi, ayat tersebut berbunyi, “Kutiba ‘alaikumus shiyamu”, bukan “Kutiba ‘alaikum shiyamun”. Sebelum kata shiyamu terdapat alif-lam. Hal ini disebut ismun ma’rifah, yaitu kata benda yang bersifat tertentu. Kalau disebut “as shiyamu” maka puasa yang dimaksud sudah tertentu, sudah dimaklumi, jelas maksudnya. Tetapi kalau “shiyamun”, maka puasa itu bersifat umum, general, puasa apa saja, baik di bulan Ramadhan atau di luarnya. Maka alif-lam pada “as shiyamu” itu artinya adalah puasa tertentu, sudah pasti maksudnya, sudah nyata diferensiasinya, yaitu:Puasa di bulan Ramadhan. Singkat kata, puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman ialah puasa di bulan Ramadhan, bukan selainnya.
- Memang, selain puasa Ramadhan ada juga puasa yang diwajibkan, yaitu: Puasa qadha untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan; dan puasa nadzar. Misalnya ada seseorang yang nadzar akan berpuasa 7 hari jika lulus ujian, maka dia wajib menunaikan puasa itu, tidak boleh ditinggalkan. - Wallahu a’lam bisshawaab.
Share this article :
 

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TELAGA ILMU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger