WAKTU KEHIDUPAN

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tausiah. Tampilkan semua postingan

Cristian Gonzales : Selalu Berwudhu Sebelum Bertanding

GRESIK – Tidak banyak pendukung timnas Indonesia yang tahu apa kiat sukses Cristian ‘El-Loco’ Gonzales di turnamen AFF Suzuki Cup 2010 ini. Rahasiannya terbilang sederhana dan lumrah dilakukan seorang muslim pada umumnya, sebelum bertanding Gonzales selalu mengambil Air Wudhu.
Tidak sekadar untuk mensucikan diri dengan air, Gonzales yang asli Uruguay tidak pernah lupa meminta dukungan dari guru spiritualnya Hj Nur Hasanah, pemangku Majelis Dzikir An Nur Gresik.Bomber Naturalisasi itu memang meyakini kekuatan doa memberikannya energi positif di atas lapangan, terutama saat membela panji Merah Putih di ajang AFF Suzuki Cup. Asumsi ini ketara jelas saat dirinya menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Filipina di Stadion Gelora Utama Bung Karno, (SUGBK) Kamis, (16/12/2010) kemarin. Insting golnya yang tidak pernah padam saat meyambut bola-bola atas, membuat Ibu Pertiwi bersuka cita. Setidaknya, Indonesia sudah menjejakan satu kakinya di final turnamen antar Negara Asia Tenggara ini berkat gol semata wayang ‘Si Gila’ melalui kepalanya. Tidak pernah lelah berdo’a dan berusaha Gonzales diganjar sebagai pencetak gol terbanyak di LSI sebanyak empat kali. Karir ayah Amanda Gonzales, Michael Gonzales, Fernando`Alvaro dan Vanesa Siregar ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Dimulai dari Klub Penarol Uruguay (1988-1991), South Amerika (1994-1995), Huracan de Carientes Argentina (1997) dan Deportivo Maldonado (2000-2002) sempat dijajakinya. Kehebatan bakatnya mengolah bola dilanjutkan di kompetisi Indonesia.Pertama kali datang ke tanah Air, tujuh tahun silam, Gonzales mengawali debutnya di Tanah Air bersama PSM Makassar, dilanjutkan Persik Kediri dan kini  memperkuat Persib Bandung Sebelumnya, banyak yang tidak menyangka pria 34 tahun pasangan Eduardo Alfaro dan Meriam Gonzales itu memeluk islam. Menurut cerita Nur Hasanah, pemangku Pondok Pesantren An Nur Gresik yang terletak di Jln Wahidin Sudiruhusodo no VIII/1, lima tahun yang lalu Gonzales resmi mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Al-Akbar Surabaya disaksikan oleh seorang Ustadz bernama Mustaf.Setelah ritual selesai, Gonzeles diberi nama Mustafa Habibi. Nama Nama Mustafa diambil dari guru spiritualnya, ustadz Mustafa sedangkan Habibi (cintaku) diambil karena rasa cinta kepada sang istri, Eva Nuria Siregar yang dikenalnya di Cile pada 1994 silam Dalam kelanjutannya, Wanita Pekanbaru yang dinikahinya 1995 itu sangat telaten membimbing sang suami untuk mendalami ajaran Islam.Berdasarkan keterangan yang diperloeh Nur Hasanah, Gonzeles resmi menjadi mualaf pada 9 Oktober 2003 silam. “Saya kenal Gonzales lima tahun tahu lalu, sampai saat ini ia kerap datang untuk mengaji dan berzikir,” ucap wanita yang akrab disapa Bunda itu saat Okezone mengunjungi Pondok Pesantrennya, Jum’at (17/12/2010).
Di ponpes seluas 500 meter itu, Gonzales banyak menghabiskan waktunya untuk mendekatkan diri kepada yang kuasa serta menimbah pemahaman tentang Islam. Seperti sholat dan berdzikir. Di areal kompleks pondokan ini terdapat Masjid dan ruang utama tempat para jemaah mengaji dan berdzikir Sedangkan sisi kanan pintu masuk merupakan tempat tinggal  Nur Hasanah. Nah, di masjid yang terbuka itulah, El-Loco menyisihkan pendapatannya dari bermain bola.
 “Ya, memang sebagian merupakan bantuan dari Christian Gonzales. Namun, tidak hanya dia, masih banyak orang lain,” aku Bunda saat menerima wartawan. El-Loco sendiri merupakan satu dari sekian ribu jamaah Dzikir An Nur. Masih banyak para pejabat termasuk diantaranya beberapa meteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid I maupun II yang datang bermunajat ke Majelis Dzikir An Nur. Pengakuan Bunda Nur Hasanah, ketertarikan El-Loco terhadap Islam sudah lama.Jauh, sebelum masuk Islam istrinya selalu mengajaknya ke Majelis Dzikir An Nur untuk memahami dan mengetahui agama Islam lebih mendalam. "Saya ingat betul saat itu Gonzales datang ketika ada problem keluarga. Setelah saya beri nasehat melalui pendalaman agama langsung tertarik dan menjadi santri saya," tuturnya. Sejak saat itu, sang striker memilih Bunda Nur Hasanah sebagai guru spitualnya termasuk saat maupun sebelum bertanding. Bila keluarga El-Loco tidak sempat ikut dzikir ke Majelis Dzikir An Nur di Gresik, Bunda Nur Hasanah menyempatkan diri datang ke apartemen El-Loco di Surabaya. Menariknya, saat Gonzales sedang fokus ke pertandingan piala AFF di Jakarta, ia masih menyisihkan waktu bertemu dan meminta restu kepada Bunda Nur Hasanah baik sebelum maupun sesudah pertandingan. "Saya selalu katakan kepada Gonzales sebelum bertanding terlebih dulu harus mengambil air wudhu dan sholat. Termasuk saat pertadingan dengan Filipina kemarin. Dia menyempatkan menghubungi saya,” akunya. Kebisaan itu ternyata bukan hanya kali ini saja, namun sudah berlangsung lam. Termasuk saat pertandingan di Liga Super Indonesia yang membuatnya selalu mencetak gol. Bahkan, kata Bunda Nur Hasanah, sampai El-Loco menjadi pencetak gol terbanyak empat kali, kebiasaan itu tetap dilakukan.Bunda Nur Hasanah juga menceritakan, bila kepribadian El-Loco sebagai individu yang low profile dan tidak neko-neko. Malah, saat sebelum pertandingan. Pemain asal klub Persib Bandung ini selalu membawa tasbih. "Saya selalu menyarankan kalau mencetak gol harus sujud kepada Allah karena melalui dia manusia diciptakan," pungkas Bunda Nur Hasanah (Sumber : Ashadi Ikhsan, Koran S I, Jumat 17 Desember 2010 )
 

PUASA MUHARAM



        Hari-hari ini kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1432 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah, tetapi Masehi. Dan yang akrab dalam keseharian kita adalah hitungan kalender Masehi. Tanggal lahir, pernikahan, masuk dan libur kantor dan sebagainya. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. “Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)
        Kata Muharram artinya “dilarang”. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bilan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
        Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya, tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah SAW menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah SWT. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah jadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ibu Abbas ra, bahwa Nabi SAW, ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasulullah SAW, berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. Daripada mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa”. (HR. Bukhari) Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
        Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah SAW. Memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura. Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan
* Berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
* Berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal 9 dan 10, atau 10 dan 11 Muharram.
* Puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan  insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim)
        Landasan puasa pada tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram. Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.
        Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muhaaram. Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk bermuhasabah terhadap langkah- langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi.
        Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah SAW dan sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Dari Abu Qatada ra. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.” (HR. Muslim) “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18)
 

AMANAH :

LIDAHKU

Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. "Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar." (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam". (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya.

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.

Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.

Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.

Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.

Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.

Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. "Aduuuh ini pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!" Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. "Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?" Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.

Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.

Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?

Ada orang pakai cincin segera berkomentar, "Oh, itu sih mirip cincin saya." Ada orang beli mobil baru, "Nah, ini seperti yang di garasi saya itu." Ada kucing berbulu tebal melompat, "Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana." Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri.

Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang.

Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.

"Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat." (QS Al-Hujurat:12).

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.

Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat.

Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.

Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya.

Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin.




(Sumber : Makalah ini diambil dari ceramah A.A Gym)
 

Bersyukurlah !



RAHASIA SYUKUR


Semoga Allah Yang Maha Menatap, Maha Gagah, Maha Menguasai segala-galanya mengaruniakan kepada kita hati yang bersih sehingga bisa menangkap hikmah di balik kejadian apapun yang kita rasa dan kita saksikan , karena penderitaan dalam hidup bukan karena kejadian yang menimpa tapi karena kita tertutup dari hikmah.

Allah menakdirkan apapun Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi makhluk-makhluknya, kita sengsara adalah karena kita yang mendzolimi diri sendiri. Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu.
Firman Allah SWT :


7.  Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S 14:7) lihat juga Q.S. 16 : 53
53.  Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.
11.  Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.
Jadi setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya, kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada , jangan engkau lepaskan nikmat yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil.Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada , justru risaulah kalau nikmat yang ada tidak disyukuri, Allah sudah berjanji kepada kita dengan janji yang pasti ditepati La in Syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur , niscaya Aku akan menambah rezekimu) (QS. 14 ; 7) Maka daripada kita sengsara oleh nikmat yang belum ada lebih baik bagaimana yang ada bisa disyukuri , sayangnya kalau kita mendengar kata syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya.

Syarat yang pertama menjadi ahli syukur adalah hati tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah SWT.
Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan , tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah ,maka diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan akan makin sengsara, senikmat-nikmat dalam hidup adalah kalau kita tidak berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah SWT.

Rahasia yang kedua ahli syukur adalah "orang yang selalu memuji Allah dalam segala kondisi ", karena apa? karena kalau dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi.

Apa yang harus membuat kita menderita? adalah menderita karena kita tamak kepada yang belum ada, ciri yang ketiga dari ahli syukur adalah manfaatkan nikmat yang ada untuk mendekat kepada Allah, alkisah ada tiga pengendara kuda masuk kedalam belantara, ketika dia tertidur kemudian saat terjaga dilihat kudanya telah hilang semua , betapa kagetnya mereka dan pada saat yang sama dalam keadaan kaget, ternyata seorang raja yang bijaksana melihat hal tersebut dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan perbekalan, ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang kudanya itu berbeda-beda, si-A kaget dan berkomentar" wah ini hebat sekali kuda, bagus ototnya, bekalnya banyak pula!, dia sibuk dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini".

Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar "wah ini kuda hebat, sambil berterima kasih kepada yang memberi, sikap C beda lagi, ia berkomentar "lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa? yang ditanya menjawab "ini kuda milik raja", si-C bertanya kembali "kenapa raja memberikan kuda ini? dijawab" sebab raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja".
Dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.

Nah begitulah, si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan mobil, motor, rumah, dan kedudukan sibuk dengan kendaraan itu, tanpa sadar bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu titipan Allah, yang B mungkin adalah model kita yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tetapi ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah SWT.Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan bersadaqah.

Maka, jika sahabat ingin banyak uang ? sederhana saja rumusnya, pakailah uang yang ada untuk berjuang di jalan Allah, jangan heran jika rejeki datang melimpah, punya rumah ingin nikmat bukan masalah ada atau tidak ada AC, bukan masalah ukuran ,tetapi rumah yang nikmat adalah rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekat kepada Allah, bangunlah rumah yang tidak membuat kita sombong  belilah acessories rumah yang membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat kepada kekayaan kita, pasanglah hiasan yang mebuat tamu kita ingat kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan kita, itulah rumah yang Insya Allah tenang dan barokah, tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan menginginkan kursi yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur, tidak usah heran rumah itu semakin diminati pencuri, dan rumah yang diminati pencuri itu membuat strees bagi yang punya, dia harus menyewa alarm, menggaji satpam, di depan haru s ada anjing,coba kalau rumahnya ingat kepada Allah dia tidak akan sesibuk itu.

Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak apa-apa memiliki yang bagus, tapi usahakan setiap tamu yang masuk ke rumah bukan ingat kepada kita tetapi ingat kepada kekayaan Allah.Andai kita mempunyai jabatan , lalu bagaimana cara mensyukurinya? gunakanlah jabatan itu agar karyawan kita dekat kepada Allah.Kesungguhan kita untuk mendidik anak lebih baik daripada, punya anak tetapi tidak tahu agama, lalu bagaimana anak itu akan memuliakan ibu bapaknya? ketika kita mati mereka hanya berebut harta warisan jangankan mensholatkan ibu bapaknya.Maka orang yang bersyukur yang adalah orang yang mendidik anaknya supaya dekat dengan Allah, di dunia nama orang tuanya terbawa harum karena anaknya mulia, di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya, di akherat Insya Allah akan terbawa karena barokah mendidik anak.

Kunci syukur yang keempat adalah berterima kasih kepada yang telah menjadi jalan nikmat, seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya, dimana-mana anak sholeh itu harum namanya, tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia sebab kenapa? karena mereka tidak tahu balas budi. Benar orang tua kita tidak seideal yang kita harapkan , tetapi masalah kita bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua.

Saudara-saudaraku yang budiman negeri kita dikatakan negeri bersyukur kalau sadar bahwa negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik sesorang, bukan milik pahlawan, bukan milik siapapun yang membangun negeri, tapi negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah tapi kita episodenya hidup di Indonesia.

Maka syukuri , jangan minder jadi orang Indonesia yang disebutkan negara koruptor, tetapi justru kita yang harus bangkit untuk tidak korupsi ! dengan minder tidak akan menyelesaikan masalah.Kita harus bangkit !!, negara ini harus jadi ladang untuk mendekat kepada Allah.Dengan ada perasaan dongkol, sakit hati itu semuanya tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah , sekarang justru kesempatan kita menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi , daripada sibuk mempermasalahkan masalah lebih baik mari kita sedikit demi sedikit menyelsaikan masalah, itulah namanya syukur nikmat.

                                                                



 

Doa Malaikat

 

Nasehat Alghozali

Apa Yang Paling ..... di Dunia?

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia?
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia?
3. Apa yang paling besar di dunia?
4. Apa yang paling berat di dunia?
5. Apa yang paling ringan di dunia?
6. Apa yang paling tajam di dunia?
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya.... pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?" Murid-muridnya menjawab "orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya".Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185).
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?" Murid-muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama. Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka. Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?"
Ada yang menjawab "besi dan gajah". Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya. Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?". Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan". Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan shalat, gara-gara aktivitas kita meninggalkan shalat. Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. [mujahadah.cjb.net]( Hikmah BR 10)
 

Munajat

ADAB BERDOA

Adab berdoa dalam Islam yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah sebagai berikut:

1. Ikhlas karena Allah semata. (QS. Al-Mu’min: 14),(QS. Al-Bayyinnah: 5)
2. Mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu diikuti dengan bacaan shalawat kepada atas Rasulullah dan diakhiridengannya.
3. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a serta yakin akan dikabulkan
4. Mendesak dengan penuh kerendahan dalam berdo’a dan tidak terburu-buru.
5. Menghadirkan hati dalam do’a.
6. Memanjatkan do’a, baik dalam keadaan lapang maupun susah.
7. Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali hanya kepada Allah semata.
8. Tidak mendo’akan keburukan kepada keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
9. Merendahkan suara ketika berdo’a, yaitu antara samar dan keras. (QS. Al-A’raaf: 55, 205).
10. Mengakui dosa yang telah diperbuat, lalu mohon ampunan atasnya, serta mengakui nikmat yang telah diterima dan bersyukur kepadaAllah atas nikmat tersebut.
11. Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam do’a.
12. Tadharru’ (merendahkan diri), khusyu’, raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan rahbah (rasa takut tidak dikabulkan). (QS. Al-Anbiyaa’: 90).
13. Mengembalikan (hak orang lain) yang dizhalimi disertai dengan taubat.
14. Memanjatkan do’a tiga kali.
15. Menghadap Qiblat.
16. Mengangkat kedua tangan dalam do’a.
17. Jika mungkin berwudhu’ terlebih dahulu sebelum berdo’a.
18. Tidak berlebih-lebihan dalam berdo’a.
19. Tawassul kepada Allah dengan Asmaa’-ul Husna dan sifat-sifatNya yang Maha Tinggi, atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakannya sendiri atau dengan do’a seorang shalih yang masih hidup dan berada di hadapannya.
20. Makanan dan minuman yang dikonsumsi serta pakaian yang dikenakan harus berasal dari usaha yang halal.
21. Tidak berdo’a untuk suatu dosa atau memutuskan silaturahmi.
22. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
23. Harus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran).
24. Hendaklah orang yang berdo’a memulai dengan mendo’akan diri sendiri, jika dia hendak medo’akan orang lain.

Berikut saya sertakan beberapa ayat Al Qur’an yang terkait dengan doa :

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air kemulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”(QS. 13 : 14).
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah merekaberiman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. 27 : 62).
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS. 40 : 60).
“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras” (QS. 42 : 26).
 

Makna Puasa

TAFSIR TEMATIK SURAT  2 : 183

Disini kita akan membahas Surat Al Baqarah 183 secara terperinci, yaitu membahas kata per kata, atau frasa per frasa. Penjelasandidasarkan atas ayat-ayat Al Qur’an, kaidah bahasa Arab, dan riwayat-riwayat tertentu. Secara lengkap bunyi ayat tersebut ialah:

Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaquun.
183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Selanjutnya, penjelasannya sebagai berikut:
Ya aiyuha

- Ya aiyuha adalah kata yang digunakan untuk panggilan. Dalam bahasa Arab disebut harfun nida’ (kata panggilan). Ia sama dengan kata “Ya”. Atau dalam bahasa Indonesia, “Hai” atau “Wahai”.
- Dalam Al Qur’an, kita menjumpai penggunaan kata “Ya aiyuha”, seperti pada kata “Ya aiyuhan naas”, “Ya aiyuhal insan”, “Ya aiyuhan Nabiy”, “Ya aiyuhal mudats-tsir”, “Ya aiyuhal muzammil”, dan lainnya. Artinya sama, berupa panggilan kepada pihak-pihak tertentu.
- Biasanya, jika seseorang dipanggil, dia akan bersungguh-sungguh menyambut panggilan itu. Misalnya, dia dipanggil oleh kakak atau adiknya, orangtua, anak dan isterinya, shahabat, tetangga, guru, pak RT, pak RW, dan sebagainya. Semakin terhormat seseorang yang memanggil, semakin besar pula kesungguhannya. Panggilan seorang walikota, bupati, gubernur, menteri, anggota DPR, bahkan seorang presiden, akan disambut dengan penuh kesungguhan.
- Jika terhadap panggilan manusia saja, kita bersungguh-sungguh menyambutnya. Lalu bagaimana jika yang memanggil adalah Allah ? Dia Pencipta langit dan bumi, pemilik alam semesta, pengatur alam seluruhnya, pemberi kehidupan, penentu kematian, kerajaan-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, di Tangan-Nya ditentukan nasib setiap walikota, bupati, menteri, gubernur, presiden, jendral-jendral, George Bush, Vladimir Putin, Hitler, Napoleon, Jengis Khan, Kaisar Nero, Kisra Persi, Fir’aun, Hamman, dan sebagainya. Kira-kira, bagaimana respon kita ketika dipanggil oleh Allah?
- Umumnya manusia sangat bersungguh-sungguh menyambut panggilan para pejabat yang mulia. Tetapi mereka tidak serius ketika menyambut panggilan Allah. “Para pejabat kan jelas orangnya, jelas pengaruhnya, dan bisa ngasih kita duit, kalau hatinya suka ke kita. Sementara Allah tidak terlihat, jadi bagaimana akan serius menyambut panggilan-Nya?” begitu alasan di hati mereka, meskipun lisan tidak berani mengucapkannya.
- Para Shahabat radhiyallahu ‘anhu kalau mendengar panggilan Allah, mereka segera berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (kami sambut panggilan-Mu ya Allah). Begitu pula kalau mereka dipanggil oleh Rasulullah, mereka menjawab, “Labbaik ya Rasulallah!” Mereka meninggikan panggilan Allah dan Rasul-Nya di atas semua panggilan yang lainnya.
- Wallahu a’lam bisshawaab.

Alladzina amanu
- Artinya: “Orang-orang yang beriman.” Sebenarnya lebih tepat disebut: “Orang-orang yang telah mengimani.” Kata ‘amanu’ adalah fi’il madhi, kata kerja yang telah lalu; jadi lebih tepat disebut “telah mengimani”. Kalau subyeknya tunggal, menjadi ‘amana’.
- Dalam Al Qur’an sangat sering dipakai perkataan, “Ya aiyuhal ladzina amanu”. Orang-orang beriman selalu disebut secara jama’ (kolektif). Tidak pernah sekali pun Al Qur’an mengatakan, “Ya aiyuhal mukmin” (wahai seorang Mukmin). Atau tidak pernah dikatakan, “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang mengimani). Selalu dikatakan, “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman). Hal ini mengandung hikmah, bahwa din Islam adalah agama kolektif, agama kebersamaan, bukan agama individu, bukan agama egoisme, bukan agama ta’ashub golongan. Ummat Islam adalah Ummatan Wahidatan (Ummat yang satu), bukanUmmat yang terpecah-belah, atau tersegmentasi menjadi berbagai golongan.
- Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk bersatu padu, menjalin Ukhuwwah Islamiyyah, tidak berpecah-belah dalam agama. Salah satu yang sering dibahas, adalah wasiat Allah kepada para Nabi-nabi dan juga kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Bunyi wasiatnya, “An aqimud din wa laa tatafarraquu fihi” (tegakkanlah agama ini dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya. As Syuraa: 13).
- Sebagian kaum Muslimin ada yang berdakwah dengan membawakan “hadits 73 golongan”. Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk neraka, dan 1 golongan selamat. Hadits ini sangat masyhur, tetapi cara memahaminya seringkali salah. Sebenarnya, hadits itu bermakna khabar (berita), bahwa Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengabarkan, kelak Ummatnya akan berpecah-belah demikian-demikian. Namun oleh sebagian orang, hadits itu justru dipahami sebagai perintah untuk berpecah-belah, menghancurkan persatuan Islam, mengobarkan pertikaian di antara sesama Muslim, terus kembangkan permusuhan dalam diri Ummat. Cara mereka berdakwah mencerminkan pemahaman mereka. Makna hadits itu adalah khabar tentang perpecahan, tetapi aplikasinya justru membuat perpecahan sebanyak-banyaknya. Padahal agama para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam ditegakkan di atas manhaj persatuan, tetapi mereka malah bersuka ria di atas perpecahan. Dari sisi sudah tampak kesesatan jalan itu.Na’udzubillah wa na’udzubillah.
- Siapapun yang membangun agamanya di atas individualisme, egoisme, fanatik golongan, dan tidak kembali kepada asas semula, yaitu persatuan di antara kaum Muslimin, mereka akan tersesat dan dikalahkan. Lihat saja, dalam Al Qur’an Allah selalu memanggil Ummat Islam dengan “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman), bukan “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang beriman). Pemahaman di atas semangat perpecahan itu pasti tidak akanmatchingdengan konsep dasar agama ini, selamanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
- Dalam sebagian literatur disebutkan, bahwa perintah Shiyam Ramadhan pertama kali turun padatahun 2 Hijriyah. Dalam masa 13 tahun Ummat Islam di Makkah, perintah Shiyam Ramadhan belum diturunkan.
- Pada dasarnya, perintah Shiyam Ramadhan menuntut landasan keimanan, sebab kewajiban ini memang tidak ringan. Dalam Rukun Islam, Shiyam Ramadhan menempati posisi ke-4 setelah Syahadat, Shalat, dan Zakat. Tidak dibenarkan seseorang menjalankan Shiyam Ramadhan secara penuh, tetapi dirinya sendiri meninggalkan Shalat Lima Waktu dan kewajiban Zakat. Kecuali bagi anak-anak yang baru belajar puasa, sekedar berlatih menahan makan dan minum. - Wallahu a’lam bisshawaab.

Kutiba ‘alaikum
- Artinya: “Telah diwajibkan atas kalian.” Arti asal dari kata ‘kutiba’ sebenarnya: Telah dituliskan! Dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Kutiba adalah bentuk pasif dari kata ka-ta-ba, sehingga maknanya ‘dituliskan’. (Kalau dalam bahasa Indonesia, kutiba = aku datang. Sekedar humor!).
- Para ahli tafsir telah sepakat, bahwa kata ‘kutiba’ artinya adalah diwajibkan atau difardhukan. Sebagai ibadah wajib, sebagaimana rumus umumnya, jika dikerjakan mendapat pahala besar, jika ditinggalkan berdosa. Shiyam Ramadhan adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang mampu mengerjakannya.
- Ada beberapa ayat dalam Surat Al Baqarah yang mirip bentuk kalimatnya dengan ayat Shaum ini. Dalam ayat 178 disebutkan: “Kutiba ‘alaikumul qishash fil qatla” (diwajibkan atas kalian al qishash dalam pembunuhan); dalam ayat 180: “Kutiba ‘alaikum idza hadhara ahadakumul mautu in taraka khaira, al washiyah” [diwajibkan atas kalian jika datang (tanda-tanda) kematian kepada salah satu dari kalian, yaitu menyampaikan washiyat, jika dia meninggalkan suatu kebaikan (harta benda yang banyak)]; dalam ayat 216: “Kutiba ‘alaikumul qitalu wa huwa kurhul lakum” (diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan berperang itu tidak kalian sukai). Bahkan sejatinya, dalam ayat-ayat Surat Al Baqarah ini adalah “rangkaian kutiba”, sebab berturut-turut disebutkan ayat-ayat tentang kewajiban, meskipun terpisah oleh beberapa ayat lainnya. Ayat Shaum termasuk di dalamnya (ayat 183). Singkat kata, kutiba itu artinya diwajibkan/difardhukan.
- Adapun kalimat ‘alaikum kembali kepada orang-orang beriman.
- Wallahu a’lam bisshawaab.

As shiyamu
-As shiyamu adalah bentuk jama’ (plural) dari kata as shaumu.
- Dalam ayat di atas digunakan kata as shiyamu, bukan shaumu. Memang di bulan Ramadhan terdapat banyak puasa, Ummat Islam berpuasa sebulan penuh, bukan hanya sehari puasa; dan yang berpuasa itu seluruh kaum Muslimin di muka bumi, bukan hanya satu dua orang, atau sekelompok orang saja.
- Kata shaum menurut para ulama maknanya al imsak(menahan diri). Hal ini sama dengan istilah waktu imsak yang sering kita dengar, yaitu waktu 10 atau 15 menit menahan makan-minum sebelum adzan Shubuh. Sama-sama memakai kata al imsak yang berarti menahan diri.
- Kemudian coba perhatikan lagi, ayat tersebut berbunyi, “Kutiba ‘alaikumus shiyamu”, bukan “Kutiba ‘alaikum shiyamun”. Sebelum kata shiyamu terdapat alif-lam. Hal ini disebut ismun ma’rifah, yaitu kata benda yang bersifat tertentu. Kalau disebut “as shiyamu” maka puasa yang dimaksud sudah tertentu, sudah dimaklumi, jelas maksudnya. Tetapi kalau “shiyamun”, maka puasa itu bersifat umum, general, puasa apa saja, baik di bulan Ramadhan atau di luarnya. Maka alif-lam pada “as shiyamu” itu artinya adalah puasa tertentu, sudah pasti maksudnya, sudah nyata diferensiasinya, yaitu:Puasa di bulan Ramadhan. Singkat kata, puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman ialah puasa di bulan Ramadhan, bukan selainnya.
- Memang, selain puasa Ramadhan ada juga puasa yang diwajibkan, yaitu: Puasa qadha untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan; dan puasa nadzar. Misalnya ada seseorang yang nadzar akan berpuasa 7 hari jika lulus ujian, maka dia wajib menunaikan puasa itu, tidak boleh ditinggalkan. - Wallahu a’lam bisshawaab.
 

Renungan

Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.
Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. “Inilah yang disebut Padang Mahsyar,” suaranya begitu menggetarkan jiwaku. “Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku,”batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.
Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau Adzab neraka yang siap menanti.
Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan…..? Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. “Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga,apalagi aku,” pikirku mantap.
Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.
Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.
Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Yaa Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.
“Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku,” aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangannya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, “Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.” Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.
Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi pembantu di rumahku yang kerap kali kuperintah dengan seenaknya. Kendatipun sudah setengah tua mbok Darmi tetap menjalankan perintahku dengan senyuman. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, “Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak.”
MasyaAllah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jama’ah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. “Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Dengan penuh keikhlashan mereka dengarkan taujih-taujih darimu, kemudian mereka ‘amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara,”jelasnya lagi.
Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, “Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu.”
Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. “Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu,” bergetar tubuhku mendengarnya.
Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jama’ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah  balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.
Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah…, ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.
 

Penyakit Hati

TAKABUR DAN THERAPINYA


        Menurut tata bahasa, "takabbur" semakna dengan ta'azhzum, yakni menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar. Penyusun kamus Lisanul Arab mengatakan "takabbur dan istikbar ialah ta'azhzum, merasa besar dan menampak-nampakkan kebesarannya
        Perbedaan antara takabur, ujub dan ghurur adalah bahwa ujub itu mengagumi atau membanggakan diri dari segala sesuatu yang timbul darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan tapi tidak merendahkan dan meremehkan orang lain.
Perbedaan antara takabur, ujub dan ghurur adalah bahwa ujub itu mengagumi atau membanggakan diri dari segala sesuatu yang timbul darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan tapi tidak merendahkan dan meremehkan orang lain.

Cara Mengobati Takabur
1. Mengingat akibat-akibat dan bahaya yang ditimbulkan oleh takabur, baik yang mengenai dirinya sendiri maupun mengenai amal Islami, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrowi.
2. Menengok orang sakit, meyaksikan orang yang akan meninggal dunia, menolong kesusahan, mengantarkan janazah dan ziarah kubur
3. Tidak berteman dengan orang-orang yang takabur dan sebaliknya bersahabat dengan orang-orang yang tawadhu' dan ahli ibadah.
4. Suka duduk-duduk bersama orang lemah, orang fakir dan miskin, bahkan makan dan minum bersama mereka, karena hal ini akan dapat membersihkan jiwa dan mengembalikannya ke jalan yang lurus.
5. Suka memikirkan dirinya dan alam semesta, bahkan merenungkan semua nikmat yang diperolehnya sejak yang paling kecil hingga yang paling besar. Siapakah sumber semua itu?
6. Memeprhatikan riwayat-riwayat orang takabur, bagaimana keadaan mereka dan bagaimana akhirnya, sejak iblis, Namrud, Fir'aun, Haman
7. Selalu mengingat tolok ukur keutamaan dan kemajuan Islam.
8. Suka memikirkan dirinya dan alam semesta, bahkan merenungkan semua nikmat yang diperolehnya sejak yang paling kecil hingga yang paling besar. Siapakah sumber semua itu?
9. Memeprhatikan riwayat-riwayat orang takabur, bagaimana keadaan mereka dan bagaimana akhirnya, sejak iblis, Namrud, Fir'aun, Haman
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TELAGA ILMU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger