WAKTU KEHIDUPAN

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label PTK ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK ku. Tampilkan semua postingan

PTK : Outdoor Activities

Pembelajaran IPS Dengan Outdoor Activities Di SMP Muhammadiyah Semin
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
         Globalisasi telah menempatkan manusia pada dunia tanpa batas (borderless world). Globalisasi yang disertai dengan revolusi di bidang ICT (Information and Communication Technology) membawa pengaruh pada lunturnya nilai nasionalisme di kalangan generasi muda. Berbagai kemudahan memperoleh informasi akibat akselerasi di bidang ICT telah membuat generasi muda Indonesia yang merupakan tulang punggung bangsa teracuni dengan berbagai dampak negatif globalisasi. Hal ini dapat dilihat dari kondisi di lapangan yang menunjukkan bahwa munculnya budaya kekerasarasan, konsumerisme menjadi gaya hidup kawula muda, lunturnya semangat kegotong royongan, kurangnya penghargaan terhadap budaya sendiri, meninggalkan hasil produksi dalam Negri dan lebih membanggakan hasil produksi luar Negri.
         Proses pembelajaran yang diselenggarakan secara formal di sekolah dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan diri siswa secara terencana baik aspek pengetahuan, ketrampilan maupun sikap. Mata pelajaran IPS juga memiliki tujuan agar siswa memiliki perubahan pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Namun banyaknya materi bahasan yang dibebankan oleh kurikulum dengan keterbatasan waktu yang tersedia merupakan kendala bagi guru untuk dapat mengoptimalkan penanaman nilai-nilai, termasuk nilai nasionalisme pada siswa. Untuk mengejar target kurikulum, guru dalam pembelajaran cenderung lebih menekankan penguasaan materi ajar (Saidihardjo, 2005: 111).
         Kegiatan pembelajaran selama ini hanya berlangsung di ruang-ruang kelas dengan memanfaatkan sumber pembelajaran yang monoton, dan belum memanfaatkan kegiatan di luar kelas (outdoor activities), sehingga guru mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi. Akibatnya pembelajaran IPS berlangsung kaku dan formal. Menyikapi kondisi tersebut, perlu disimak pernyataan Paulo Freire (Muhammad Idrus, 2005: 161) yang mengatakan bahwa every place is a school, every one is teacher. Artinya bahwa setiap orang adalah guru, guru bisa siapa saja, dimana saja, serta hadir kapan saja, tanpa batas ruang, waktu, kondisi apapun. Dengan demikian siapa saja dapat menjadi guru dan pembelajaran tidak harus berlangsung di dalam kelas, sebab setiap tempat dapat menjadi tempat untuk belajar. Konsep Paulo Freire sangat tepat bila dihubungkan dengan metode outdoor activities. Outdoor activities dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengayaan sumber pembelajaran.
         Pembelajaran IPS di SMP Muhammadiyah Semin masih bersifat verbalistis, belum memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar. Padahal letak SMP Muhammadiyah Semin yang berdekatan dengan Pasar Pusat Pemerintahan Tingkat Kecamatan Semin  seharusnya dapat memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang ada di dalamnya.
         Kesan bahwa mata pelajaran IPS sangat padat dan luas akan menimbulkan perasaan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat berlangsung efektif apabila siswa dapat berinteraksi langsung dengan obyek, peristiwa, situasi dan kondisi kehidupan sehari–hari melalui sumber belajar. Begitu pula pembelajaran IPS yang disajikan guru seperti tercantum dalam kurikulum tidak banyak berarti apabila disajikan dalam bentuk informasi atau ceramah saja, tanpa memahami kondisi nyata. Proses pembelajaran harus dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mampu mengembangkan potensinya secara optimal, sehingga dalam proses pembelajaran terjadi transfer of learning, transfer of training dan transfer of principles.
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme, para guru melakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun sejauh ini, penelitian lebih banyak terfokus pada upaya peningkatan hasil pembelajaran pada aspek kognitif. Penelitian yang memfokuskan pada hasil pembelajaran secara terintegrasi baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotor masih jarang dilakukan. Peneliti memandang penelitian yang terfokus pada hasil pembelajaran secara terintegrasi baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotor merupakan hal yang urgen dilakukan. Hal tersebut mengingat mata pelajaran IPS merupakan salah satu wahana bagi pewarisan nilai-nilai, khususnya nilai nasionalisme yang pada saat sekarang mengalami degradasi. Bila tidak ada yang memulai mengupas permasalahan tersebut, maka misi mata pelajaran IPS sebagai wahana pewarisan nilai nasionalisme tidak akan efektif. Akibatnya, degradasi nilai nasionalisme pada generasi muda tidak dapat dihindari. Lunturnya nilai nasionalisme pada suatu bangsa akan dapat mengancam tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengingat urgensi pewarisan nilai nasionalisme pada generasi muda, maka peneliti memandang perlu diadakan penelitian tentang peningkatan nilai nasionalisme dalam pembelajaran IPS dengan penerapan outdoor activities di SMP Muhamadiyah Semin.
B. Ruang Lingkup
         Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Lunturnya semangat nasionalisme di kalangan generasi muda
2.      Pembelajaran hanya dilaksanakan di kelas, belum memanfaatkan sumber-sumber belajar di luar kelas
3.      Penyampaian materi pelajaran lebih mengedapankan aspek pengetahuan, daripada penyampaian nilai–nilai yang terkandung pada materi pelajaran.
4.      Alokasi waktu dalam pembelajaran kurang mencukupi
5.      Kegiatan penelitian lebih banyak terfokus pada peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif saja.
Sehubungan dengan banyaknya permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran IPS, maka penelitian ini dibatasi pada masalah lunturnya nilai nasionalisme, penyampaian materi pelajaran yang lebih mengedepankan aspek pengetahuan dan pembelajaran yang hanya dilakukan di dalam kelas dan belum memanfaatkan sumber-sumber di luar kelas. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada upaya peningkatan nilai nasionalisme pada siswa dengan penerapan outdoor activities dalam pembelajaran IPS sehingga masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apakah penerapan outdoor activities dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa?
2.      Apakah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa penerapan outdoor activities dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan nilai nasionalisme?
 C. Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, yang dapat dirinci sebagai berikut:
1.      Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pencapaian tujuan pembelajaran IPS secara terintegrasi baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
2.      Tujuan khusus:
Untuk meningkatkan internalisasi nilai nasionalisme pada siswa SMP Muhammadiyah Semin.
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan akan membawa manfaat pada berbagai pihak, seperti:
        Bagi siswa:
a)      Meningkatkan peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran
b)      Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran secara terintegrasi pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor
c)      Menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada siswa melalui penerapan outdoor activities.
        Bagi Guru:
a)      Menemukan solusi bagi permasalahan dalam pembelajaran IPS
b)      Menemukan solusi yang tepat bagi peningkatan penanaman nilai nasionalisme pada siswa
c)      Meningkatkan profesionalisme guru.
D. Sajian Definisi
a. Nilai Nasionalisme
Menurut Nasution (1989: 133) nilai adalah seperangkat sikap yang dijadikan dasar pertimbangan, standar atau prinsip sebagai ukuran dalam kelakuan. Sedang menurut Hans Jonas (Bertens, 2005: 139) nilai adalah the addresse of a yes. Artinya nilai adalah sesuatu yang ditujukan dengan ya. Nilai merupakan sesuatu yang mempunyai konotasi positif. Dalam dunia pendidikan nilai merupakan salah satu bagian dari pendidikan afektif. Tujuan pendidikan afektif adalah membantu siswa agar meningkat dalam hierarki afektif, yakni dari tingkat paling bawah (menerima pernyataan tentang nilai-nilai) melalui tingkat merespons terhadap nilai-nilai kemudian menghargainya, merasa komitmen terhadap nilai-nilai itu dan akhirnya menginternalisasikan sistem nilai sebagai tingkat tertinggi dalam perkembangan afektif.
         Berkait dengan pendekatan pendidikan nilai, Kirchenbaum(1995: 31) menyarankan pendidikan nilai yang komprehensif yang meliputi Inculcation (Inkulkasi), Fasilitation (fasilitasi), dan pembinaan ketrampilan (skill building). Pendekatan penanaman nilai (inkulkasi) mengusahakan agar para siswa mengenal dan menerima nilai sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pilihan, menentukan pendirian, menerapkan nilai sesuai dengan keyakinan diri.
         Hans Kohn (Sumantri Mertodipuro,1984 : 11) mengatakan bahwa nasinalisme adalah paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Perasaan yang sangat mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya, dengan tradisi-tradisi setempat dan penguasa-penguasa resmi di daerahnya selalu ada di sepanjang sejarah dengan kekuatan yang berbeda–beda .
         Menurut Synder (1954: 148), nationalisme is primarly concerned with the independence and unity of the nation. Maksudnya bahwa nasionalisme merupakan suatu paham yang mengutamakan persatuan dan kebebasan bangsa. Nasionalisme memuat beberapa prinsip yaitu: kesatuan/unity, kebebasan/liberty, kesamaan/equality, kepribadian/individuality, prestasi (http://www.mediaindo.co.id/cetak).
         Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai nasionalisme dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan yang mencakup unsur-unsur cinta tanah air, persatuan, persamaan, penghargaan, pengorbanan dan diujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku dalam berbagai aspek.
 b. Pembelajaran IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang diajarkan guna mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, sejarah, antropologi, ilmu politik, dan sebagainya dengan menampilkan permasalahan sehari-hari masyarakat sekeliling.
Barth (1990:360) mengemukakan, Social Studies was assigned the mission of citizenship education, that mission included the study of personal/social problems in an interdiciplinary integrated school curriculum that would emphasize the practice of decision making. Maksudnya adalah Ilmu Pengetahuan Sosial membawa misi pendidikan kewarganegaraan dimana di dalam misi itu dikandung belajar individu atau masalah sosial dalam lintas disiplin terintegrasi kurikulum sekolah yang akan menekankan pengambilan keputusan yang praktis.
Menurut NCSS(national Counsil for Social Studies 1992):
“Social studies is the integrated study of social science and humanities to promote civic competence. Within the school pogram, socials studies provides coordinated, systematic study drawing upon such diciplines as anthropology, archeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology as well as appropriate content fom humanities, mathematics and natural sciences”.
(http://www.social studies.org/standard/membership/)
Artinya studi sosial merupakan studi terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial untuk mengembangkan potensi kewarganegaraan yang dikoordinasikan dalam program sekolah sebagai pembahasan sistematis yang dibangun dalam beberapa disiplin ilmu, seperti antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat ilmu-ilmu politik, psikologi, agama, sosiologi, dan juga memuat isi dari humaniora dan ilmu-ilmu alam
Ilmu Pengetahuan Sosial (Puskur, 2006: 5) adalah merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Ilmu pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial ( sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya)
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diturunkan di muka bumi senantiasa berada pada dimensi ruang dan waktu. Pada tataran ruang dan waktu inilah manusia menjalani suatu kehidupan. Di dalam menjalani suatu kehidupan itu manusia akan terkait dengan berbagai aspke kehidupan dan kegiatan. Ini artinya keberadaan manusia di dunia in tidak terlepas dari tiga hal yakni ruang, waktu dan perjuangan.
Unsur ruang terkait dengan studi geografi, yang memaparkan aktivitas dan peranan manusia dalam upaya beradaptasi dengan tantangan dan tawaran lingkungan alam dan manusia (adaptasi ekologis). Unsur waktu terkait dengan studi sejarah yang memaparkan peristiwa dan perubahan masyarakat. Pengalaman umat manusia dari masa lampau untuk memahami dan menjadi pengalaman hidup masa kini serta merencanakan masa yang akan datang. Dalam hal ini ada proses pewarisan budaya. Sementara yang terkait dengan perjuangan hidup berbagai aspek dan aktivitas, seperti upaya pemenuhan kebutuhan (ekonomi), struktur dan hubungan antar anggota masyarakat (sosiologi), tertib masyarakat (hukum), kekuasaan dan kewenangan (politik), hasil kebudayaan manusia (antropologi budaya), peristiwa masa lampau yang penting dan bermakna (sejarah), dan sistem berbangsa dan bernegara (kewarganegaraan).
Sosiologi, geografi, ekonomi, hukum, politik, antropologi budaya, sejarah, dan kewarganegaraan sebagaimana telah disebutkan di muka, adalah cabang-cabang ilmu sosial. Dari cabang-cabang ilmu sosial itulah kemudian diambil sebagai bahan ajar (mata pelajaran). Mata pelajaran Pengetahuan Sosial di jenjang SMP mengambil bahan ajar dari cabang-cabang ilmu sosial tersebut, khususnya sosiologi, geografi, ekonomi dan sejarah. Dengan demikian mata pelajaran Pengetahuan Sosial di SMP merupakan perpaduan dari mata pelajaran dan materi sosiologi, geografi dan sejarah.
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik yang membedakan dari mata pelajaran yang lain. Demikian juga mata pelajaran Pengetahuan Sosial untuk SMP. Beberapa karakteristik mata pelajaran Pengetahuan Sosial antara lain :
1.      Pengetahuan sosial merupakan perpaduan antara sosiologi, geografi, ekonomi dan sejarah
2.      Materi kajian pengetahuan sosial berasal dari struktur keilmuan sosiologi, geografi, ekonomi dan sejarah. Dari kelima struktur keilmuan itu kemudian dirumuskan materi kajian untuk Pengetahuan Sosial.
3.      Materi pengetahuan sosial juga menyangkut masalah sosial dan tema-tema yang dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner. Interdisipliner maksudnya melibatkan disiplin ilmu ekonomi, geografi dan sejarah. Multidisipliner artinya materi kajian itu mencakup berbagai aspek.
4.      Materi Pengetahuan Sosial menyangkut peristiwa dan perubahan masyarakat masa lalu dengan prinsip sebab akibat dan kronologis, masalah-masalah sosial, dan isu-isu global yang terjadi di masyarakat, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, serta upaya perjuangan untuk survive (perjuangan hidup), termasuk pemenuhan kebutuhan untuk mencapai kesejahteraan dalam kehidupan serta sistem berbangsa dan bernegara.
Sebagai bidang ajar di sekolah, IPS memiliki tujuan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial dalam bentuk konsep dan pengalaman belajar yang dipilih atau diorganisasikan dalam rangka kajian ilmu sosial. Martorella (1994:7) menyatakan bahwa:
“The Social Studies are selected information and modes of investigation from the social sciences, selected information from any area that relates directly to an undestanding of individuals, groups, and societies and applications of the selected information to citizenship education”.
 Artinya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan informasi terpilih dan cara-cara investigasi dari ilmu-ilmu sosial, informasi dipilih dari berbagai tempat yang berhubungan langsung terhadap pemahaman individu, kelompok dan masyarakat dan penerapan dari informasi yang dipilih untuk maksud mendidik warga negara yang baik
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan IPS di SMP bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang berguna bagi diri dalam hidup sehari-hari dan warga negara yang bangga sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. Sedangkan fungsi pengajaran IPS di SMP adalah untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan sosial dan kewarganegaraan peserta didik agar dapat direfleksikan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.
Jarolimek (1986: 4) menyatakan bahwa:
“The major mission of social studies education is to help children learn about the social world in which they live and how it got that way; to learn to cope with social realities; and to develop the knowledge, attitudes, and skilsl, needed to help shape an enlightened humanity.”
 Artinya bahwa misi utama pendidikan IPS adalah untuk membantu siswa belajar tentang masyarakat dunia di mana mereka hidup dan memperoleh jalan, untuk belajar menerima realita sosial, dan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk membantu mengasah pencerahan manusia.
Tujuan pembelajaran IPS (Puskur, 2006: 7) adalah mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan trampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat
Bertolak dari fungsi dan tujuan pengajaran IPS tersebut, maka peran IPS adalah menggariskan komitmen untuk melakukan proses pembangunan karakter bangsa. Konsekuensinya dalam melaksanakan proses pembelajaran harus membantu siswa mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk menghadapi lingkungan hidupnya, baik fisik maupun sosial budaya di mana mereka hidup. Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan kombinasi antar variabel pembelajaran baik itu guru, karakteristik siswa, metode pembelajaran, sarana, dan lain sebagainya. Kemampuan guru dalam mengembangkan materi pelajaran IPS dan menentukan model pembelajaran serta sistem evaluasinya merupakan hal yang sangat penting agar materi pelajaran IPS dapat menarik, tidak membosankan, menyenangkan, dan mudah diterima oleh siswa. Untuk itu, guru IPS khusunya di SMP harus dapat mendesain kondisi (model) pembelajaran yang demokratif-kreatif, di mana siswa terlibat langsung sebagai subjek maupun objek pembelajaran, dalam arti strategi pembelajaran yang digunakan guru haruslah memiliki kadar keterlibatan siswa setinggi mungkin sehingga hasil belajar dapat dicapai secara optimal.
Dalam kaitannya dengan kondisi tersebut, maka akan sangat tepat bila nilai–nilai nasionalisme ditanamkan kepada peserta didik melalui pembelajaran IPS. Namun pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat akan sangat mengganggu transfer nilai. Oleh karena itu guru dianjurkan dapat mendesain pembelajaran yang mampu menggugah semangat nasionalisme dengan memilih bentuk metode pembelajaran yang kontekstual.
c. Outdoor Activities :
         Menurut John. M. Echols dalam Kamus Inggris Indonesia, outdoor activity berasal dari kata outdoor yang berarti berarti di luar, dan activity yang berarti kegiatan. Jadi outdoor activities dalam konteks ini adalah kegiatan pembelajaran di luar kelas. Kegiatan outdoor Activities diyakini mampu memberi wacana baru dalam pembelajaran IPS. John Elliot (Dryden, Gordon & Jeannete, 2004: 459) menekankan pentingnya mengubah citra sekolah tradisional dari ruang kelas tradisional. Hal tersebut didasari pada asumsi bahwa kegiatan di luar kelas dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran, sebab siswa merasa mendapat kegiatan yang menyenangkan. Konsep outdoor ini sejalan dengan pendapat John Elliot (Dryden, Gordon & Jeannete, 2004: 451) yang menyarankan melibatkan orangtua, kakek/nenek, dan masyarakat dalam proses belajar. Peran serta masyarakat dan orang-orang di sekitar sekolah dalam proses pembelajaran di sekolah dapat mengatasi keterbatasan guru dalam memperoleh informasi terkini. Selain itu, dengan memanfaatkan sumber belajar di luar kelas, siswa dapat memperoleh suasana baru yang dapat membuat mereka lebih fun, sehingga pembelajaran akan berlangsung dengan dinamis.
         Dalam pembelajaran IPS, kegiatan outdoor dapat dilakukan dengan jalan mengunjungi obyek–obyek tertentu, seperti : monumen, Perpustakaan Sekolah, pasar tradisional, supermarket dan lain sebagainya. Pembelajaran dengan menggunakan outdoor activities memiliki beberapa unggulan, seperti :
a)      Siswa dapat bertanya jawab secara langsung kepada nara sumber, sehingga mereka memperoleh berbagai pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi .
b)      Siswa dapat melihat gambar, patung, diorama atau bahkan kegiatan manusia, sehingga dapat menangkap informasi dan menggabungkannya
c)      Siswa dapat mencocokan teori yang diperoleh selama pembelajaran ke dalam obyek.
         Menurut Dale (Ali Muhamad, 2004: 89-90), pengajaran dengan kata-kata memiliki nilai yang sangat rendah dalam alur pengalaman manusia. Pengalaman manusia memiliki dua belas tingkatan. Tingkat pengalaman yang paling tinggi adalah pengalaman yang paling kongkrit. Kedua belas pengalaman adalah sebagai berikut :
1)      Verbal Symbol
2)      Visual Symbol
3)      Radio and Recording
4)      Still Pictures
5)      Motion Pictures
6)      Educational Televisiion
7)      Exibition
8)      Study Trips
9)      Demosntration
10)  Dramatized Experiences
11)  Contrived Experiences
12)  Direct Purposeful Experiences(: Muhamad Ali (2004:89)
         Berdasarkan kerucut pengalaman tersebut, pengalaman yang paling tinggi efektivitasnya adalah direct purposeful experience, yaitu pengalaman yang diperoleh dari hasil kontak langsung dengan lingkungan, obyeknya yang berupa binatang, manusia dan sebagainya, dengan cara melakukan perbuatan langsung. Tingkatan kedua adalah pengalaman yang diperoleh melalui model, benda tiruan atau simulasi (contrived experience). Pengalaman tingkat berikutnya adalah dramatized experience, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui permainan, sandiwara, boneka, bermain peran dan drama sosial atau psikologis. Demonstrasi diperoleh melalui pertunjukkan. Study trip diperoleh melalui karya wisata, exibition melalui pameran, educational television melalui televisi pendidikan. Motion picture diperoleh melalui gambar mati, slide atau fotografi. Radio and Recording melalui siaran radio atau rekaman suara (audio recording). Visual symbol melalui simbol yang dapat dilihat seperti grafik, bagan atau diagram, dan verbal symbol diperoleh melalui penuturan kata-kata.

BAB II
LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A. Penyusunan Program Pembelajaran
         Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan yang difokuskan pada situasi kelas dan biasa disebut dengan Penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research.
         Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E di SMP Muhammadiyah  Semin,  yang berjumlah 38 orang. Pemilihan sasaran dilakukan atas dasar bahwa guru sebagai peneliti dan pengamat akan melakukan tindakan untuk memecahkan masalah yang ada di sekolah dengan tujuan meningkatkan mutu pembelajaran IPS. Pengambilan subjek penelitian dengan kriteria sebagai berikut: (1) Guru yang mengajar IPS sudah banyak pengalaman mengajar lebih dari 5 tahun, (2) Ijasah yang dimiliki adalah S1 (Strata satu).
         Penelitian ini melibatkan Bapak Nanang Mega Derita, S.Pd sebagai guru pelaksana dan Bapak Tugiran S.Pd. sebagai observer.
         Rancangan model penelitian tindakan kelas ini adalah model spiral atau siklus menurut Kemmis dan Taggart (1990: 29). Dengan menggunakan model ini apabila dalam awal pelaksanaan tindakan masih memerlukan perbaikan, maka dapat dilanjutkan pada siklus berikutnya sampai target yang diinginkan tercapai.
      Kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada setiap Siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Alokasi waktu untuk setiap kali pertemuan adalah 2 X 40 menit. Program pembelajaran yang dilaksanakan pada setiap Siklus merupakan hasil diskusi antara peneliti, guru pelaksana dan kolabor.
B. Pelaksanaan Pembelajaran
1. Tindakan Siklus 1
a. Kompetensi Dasar
Pada siklus pertama kompetensi dasar yang akan dicapai adalah:
Mendeskripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional
b. Materi
a)      Pengertian pajak dan retribusi.
b)      Pajak dan fungsinya bagi perekonomian nasional.
c)      Perbedaan pajak langsung dengan pajak tidak langsung.
d)      Fungsi dan peranan pajak dalam kehidupan suatu negara.
e)      Jenis-jenis pajak yang ditanggung oleh keluarga.

c. Hipotesis Tindakan 1
1) Penerapan outdoor activities pada mata pelajaran IPS untuk materi pembelajaran peranan pajak dalam perekonomian Indonesia dengan observasi di Kantor Kecamatan Semin dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa.
2) Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa outdoor activities dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan nilai nasionalisme siswa dapat diobservasi melalui hasil tes sikap yang mencakup aspek cinta tanah air, kerjasama, persatuan, dan penghargaan, dan pengorbanan.
d. Metode
         Metode pembelajaran yang digunakan adalah ceramah bervariasi, tanya jawab, diskusi kelompok dan ourdoor activities.
 
e. Media
         Media yang digunakan pada pembelajaran adalah contoh bukti pembayaran PBB, contoh slip pembayaran pada supermarket, data-data pembayaran pajak PBB di Kecamatan Semin, OHP dll.
       
f. Proses Pembelajaran
         Materi yang disajikan pada pertemuan pertama adalah mengenai peranan pajak bagi perekonomian Indonesia. Pada bagian pendahuluan guru mengawali pembelajaran dengan apersepsi dan motivasi yang mengarah pada tujuan pembelajaran. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran, model pembelajaran yang akan diterapkan serta rambu-rambu yang harus diikuti siswa selama proses pembelajaran
         Pada kegiatan inti, guru menyampaikan gambaran materi pembelajaran secara umum dengan menggunakan metode ceramah bervariasi dan tanya jawab. Untuk memperlancar pelaksanaan tugas kelompok pada pertemuan berikutnya, guru membimbing siswa membuat kelompok diskusi. Penentuan anggota kelompok dilakukan secara demokratis. Demikian juga dengan penentuan nama kelompok diserahkan kepada siswa. Guru cukup memberi pengarahan bahwa nama kelompok adalah hal-hal yang berhubungan dengan pajak. Jumlah anggota pada tiap-tiap kelompok maksimal 4 orang, dengan harapan monitoring guru terhadap aktivitas anggota kelompok lebih mudah. Pembentukan kelompok dilakukan dengan mempersilahkan siswa mengambil satu lintingan yang berisi nama kelompok. Setelah semua mendapatkan lintingan, semua siswa dipersilahkan mencari teman yang mendapat nama yang sama untuk menjadi anggota kelompok. Setelah kelompok terbentuk, guru membagi tugas dan Lembar Kerja Siswa pada masing-masing kelompok. Sebelum kegiatan pembelajaran diakhiri, guru menyampaikan mekanisme kerja kelompok pada kegiatan Outdoor di pertemuan berikutnya.
         Pada pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran diawali dengan ceking guru terhadap kesiapan siswa mengikuti kegiatan outdoor dengan lokasi Kantor Kecamatan Semin. Siswa berangkat ke Kantor Kecamatan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit perjalanan. Sesampai di kantor kecamatan, siswa nampak masih belum berani menemui petugas kantor kecamatan. Pihak kantor kecamatan sangat akomodatif menerima kehadiran siswa SMP Muhammadiyah Semin . Bahkan Bapak Camat Kecamatan Semin berkenan menerima siswa di aula Kecamatan Semin dan turut memberikan informasi yang diperlukan siswa.
         Pertemuan ke-3 siklus pertama diawali dengan apersepsi dan motivasi. Selanjutnya siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, sementara anggota kelompok lain memberikan tanggapan. Pada kegiatan presentasi hasil diskusi, nampak bahwa belum seluruh siswa tertarik untuk aktif mengikuti diskusi. Bahkan kerjasama dalam satu kelompok ketika mempresentasikan hasil diskusi masih kurang. Setiap presentasi satu kelompok diskusi selesai, guru memberikan masukan dan penjelasan untuk kesempurnaan hasil diskusi. Setelah semua kelompok memaparkan hasil diskusi, masing-masing kelompok diminta menempelkan hasil diskusi pada papan tayang. Selanjutnya guru memberi kesempatan pada siswa untuk tanya jawab tentang materi yang disajikan pada pertemuan tersebut.
         Selanjutnya pada kegiatan penutup guru dan siswa membuat kesimpulan. Pada kesempatan ini pula guru menyampaikan nilai-nilai nasionalisme yang dapat diteladani siswa. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan tersebut ditutup dengan kegiatan evaluasi dan pemberian tugas untuk pertemuan berikutnya.
2. Tindakan Siklus II
a. Kompetensi Dasar
         Kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa pada siklus kedua adalah: Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi dan proses terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia.
b. Materi
a)      Perbedaan perspektif antar kelompok sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia
b)      Kronologi proklamasi kemerdekaan Indonesia
c)      Penyebaran berita proklamasi kemerdekaan melalui berita radio,pamflet,selebaran
d)      Proses terbentuknya negara dan pemerintah Republik Indonesia dengan sidang PPKI
e)      Dukungan dari berbagai daerah berupa dukungan spontan dan tindakan heroik dari berbagai daerah.
c. Hipotesis Tindakan Siklus II
1) Penerapan outdoor activities pada mata pelajaran IPS untuk materi pembelajaran perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan observasi di Perpustakaan Sekolah dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa.
2) Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa outdoor activities dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan nilai nasionalisme siswa dapat diobservasi melalui hasil tes sikap yang mencakup aspek cinta tanah air, kerjasama, persatuan, dan penghargaan, dan pengorbanan.
d. Metode
         Pelaksanaan pembelajaran pada siklus kedua, menggunakan metode ceramah bervariasi, tanya jawab, diskusi kelompok, outdoor activities di Perpustakaan Sekolah
e. Media
         Media yang digunakan dalam proses pembelajaran pada siklus kedua OHP, gambar, foto, peta, dan informasi yang dapat digunakan untuk mengisi Lembar Kerja Siswa.
f. Proses Pembelajaran
         Bapak Nanang Mega Derita, S.Pd sebagai guru pelaksana memulai pembelajaran pada pertemuan pertama siklus kedua dengan memeriksa presensi siswa. Selanjutnya pada awal pembelajaran guru melakukan improvisasi dengan mengajak siswa kelas VIII E melakukan pemanasan dengan menyanyikan lagu ”Hari Merdeka”. Anak-anak tampak antusias menyanyikan lagu tersebut dan wajah-wajah mereka tampak ceria, karena urat syaraf mereka kendor sejenak setelah mereka mengalami ketegangan mengikuti pelajaran sebelumnya. Setelah dirasa siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan menanyakan hal-hal yang berkait dengan peristiwa Proklamasi.
         Memasuki kegiatan inti, guru menyampaikan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran. Guru menyampaikan materi pembelajaran secara umum dengan ceramah diselingi tanya jawab. Selanjutnya siswa diminta untuk membentuk kelompok seperti pada siklus pertama, namun anggotanya berbeda. Penentuan nama kelompok juga dilakukan secara demokratis, dimana siswa diminta membuat nama yang berkaitan dengan peristiwa sekitar Proklamasi. Setelah kelompok terbentuk, guru membagikan Lembar Kerja Siswa pada masing-masing kelompok. Selanjutnya guru menjelaskan teknis pencarian informasi di Perpustakaan Sekolah, penyelesaian tugas hingga presentasi hasil.
         Pertemuan kedua diisi dengan kegiatan outdoor kunjungan Perpustakaan Sekolah. Pada pertemuan kedua siswa masih mempelajari kompetensi dasar mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi dan proses terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia. Guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan melakukan ceking terhadap kesiapan siswa melaksanakan kegiatan outdoor. Setelah guru pelaksana, peneliti, kolabor serta siswa siap, mereka bersama-sama menuju Perpustakaan Sekolah. Sesampai di Perpustakaan Sekolah guru mempersilahkan siswa secara berkelompok mencari informasi sesuai tugas yang diberikan kepada kelompoknya. Untuk menghemat waktu, guru menganjurkan agar siswa dalam setiap kelompok membagi tugas dalam pencarian informasi, sehingga penyelesaian tugas dapat lebih efisien.
Selanjutnya guru memberikan penjelasan secara singkat tentang teknis kegiatan di Perpustakaan Sekolah. Selanjutnya siswa bekerja sesuai dengan bagiannya masing-masing.
         Setelah pencarian data ataupun informasi selesai, masing-masing kelompok mencari tempat untuk berdiskusi dan menyusun laporan hasil kerja kelompok masing-masing. Beberapa kelompok lebih memilih berdiskusi di dalam ruangan Perpustakaan Sekolah dengan cara duduk-duduk di lantai Perpustakaan Sekolah yang bersih dan sejuk. Beberapa kelompok lain lebih memilih duduk-duduk di rerumputan di bawah pohon rindang. Sesekali beberapa siswa berkunjung kepada kelompok lain untuk bertukar pendapat. Setelah semua siswa menyelesaikan tugas, guru bersama peneliti, kolabor dan siswa mohon diri untuk kembali ke ruang kelas.
         Pada pertemuan III, Guru mengawali dengan menanyakan kehadiran siswa. Setelah itu guru mengadakan apersepsi dengan melakukan tanya jawab tentang materi yang dipelajari pada pertemuan yang lalu. Selanjutnya guru menyampaikan aturan main pelaksanaan presentasi hasil diskusi. Berdasar kesepakatan guru dan siswa, penentuan kelompok yang maju presentasi ditentukan dengan menggunakan lintingan. Kelompok yang mendapat giliran pertama untuk maju adalah kelompok Sukarno-Hatta. Kelompok lain diminta untuk memperhatikan dan selanjutnya memberi masukan ataupun pertanyaan seputar materi yang dipresentasikan oleh kelompok Sukarno-Hatta. Setelah kelompok Sukarno-Hatta selesai mempresentasikan hasil diskusinya, guru membimbing siswa membuat kesimpulan. Demikian seterusnya hingga 8 kelompok maju semua.
         Pada akhir kegiatan pembelajaran, guru menyampaikan evaluasi terhadap kegiatan diskusi. Pada kesempatan ini guru memberikan stresing tentang nilai nasionalisme melalui keteladanan tokoh-tokoh pejuang . Guru meminta siswa untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dengan cara giat belajar, senantiasa memupuk semangat persatuan dan kesatuan, saling menghargai sesama dan senantiasa bersemangat untuk menjadi yang terbaik.

3. Pelaksanaan Tindakan pada Siklus III
a. Kompetensi Dasar
         Pada Siklus ketiga kompetensi dasar yang akan dicapai adalah mendeskripsikan permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar.
b. Materi
a)      Pengertian dan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan barang/jasa.
b)      Hubungan antara permintaan barang/jasa dengan harga barang/jasa dan kurva permintaan.
c)      Hukum permintaan.
d)      Berlakunya hukum permintaan cateris paribus.
e)      Pengertian penawaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran barang/jasa.
f)        Hubungan antara penawaran dengan harga barang.
g)      Kurva penawaran.dan hukum penawaran.
h)      Pengertian harga.
i)        Macam-macam harga dan penetapan harga oleh pemerintah.
j)        Kurva harga keseimbangan.

c. Hipotesis Tindakan 3
1) Penerapan outdoor activities pada mata pelajaran IPS untuk materi pembelajaran permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar dengan observasi di Pasar Larangan Semin dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa.
2) Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa outdoor activities dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan nilai nasionalisme siswa dapat diobservasi melalui hasil tes sikap yang mencakup aspek cinta tanah air, kerjasama, persatuan, dan penghargaan, dan pengorbanan.

d. Metode
         Metode yang digunakan pada siklus ketiga adalah ceramah bervariasi, tanya jawab, outdoor activities di Pasar Larangan, dan diskusi kelompok.
e. Media/Sumber
Media yang digunakan pada siklus III adalah :
a)      Pengamatan di pasar
b)      Lembar Kerja Siswa
c)      Chart
d)      OHP
f. Proses Pembelajaran
         Pada pertemuan pertama guru memulai dengan menyampaikan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran. Setelah itu dilanjutkan dengan apersepsi yang dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab hal-hal yang berhubungan dengan pasar. Pada bagian inti guru memberi penjelasan materi secara umum tentang pasar. Setelah penjelasan selesai, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang materi pasar. Selanjutnya guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat kelompok kerja dengan anggota kelompok maksimal 5 orang dan anggota kelompok harus berbeda dengan kelompok pada pertemuan sebelumnya. Setiap kelompok diwajibkan memberi nama kelompok dengan hal-hal yang berhubungan dengan pasar. Setelah semua kelompok terbentuk, guru membagikan Lembar Kerja Siswa pada setiap kelompok. Dengan pedoman Lembar Kerja Siswa, setiap kelompok melakukan pembagian tugas pada masing-masing anggotanya. Dengan demikian, tanggung jawab penyelesaian tugas dipikul secara bersama-sama.
Guru mengawali pertemuan kedua dengan apersepsi dan motivasi.Selanjutnya guru menjelaskan teknis pencarian data/informasi kepada semua siswa . Selanjutnya anak-anak meninggalkan kelas menuju ke pasar yang hanya berjarak sekitar 150 m dari sekolah. Dengan dipantau oleh guru, kolabor, dan peneliti, mereka terlihat bersemangat dan ceria . Sesampai di pasar, siswa bekerja sesuai tugas masing-masing. Kegiatan para siswa sempat menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar pasar. Para siswa tidak lagi merasa canggung mencari informasi untuk melengkapi Lembar Kerja Siswa, sebab sebagian besar pedagang di pasar adalah penduduk semin, sehingga mereka sangat familier dengan para siswa. Kelompok yang sudah selesai mencari informasi, segera kembali ke sekolah dan mulai menyusun laporan.
Pertemuan ketiga diawali dengan kegiatan apersepsi dan motivasi berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkait dengan pasar. Pada kegiatan inti guru menyampaikan aturan main presentasi hasil kerja kelompok. Siswa dan guru sepakat menentukannya dengan model lintingan. Kesempatan pertama di gunakan oleh kelompok Pasar Wage untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, sementara kelompok lain memberikan tanggapan. Pada presentasi hasil diskusi kali ini, terlihat bahwa siswa sudah enjoy dengan kegiatan presentasi. Mereka tampil dengan percaya diri dan tidak gugup lagi. Sementara antusias kelompok lain untuk memberi tanggapan pada kelompok Pasar Wage juga meningkat.
Pada bagian penutup, siswa dan guru menyusun kesimpulan bersama-sama. Selanjutnya guru memberikan evaluasi terhadap pelaksanaan diskusi. Kemudian sebelum pelajaran ditutup, guru melakukan pos tes.

C. Penilaian Hasil Pembelajaran
         Untuk memotret hasil pembelajaran, digunakan beberapa instrumen, diantaranya adalah:
a.Tes Sikap
         Tes sikap digunakan untuk menggali tanggapan siswa terhadap nilai nasionalisme terkait materi pembelajaran yang dipelajari. Hasil tes sikap dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu tanggapan positif yang ditunjukkan dengan jawaban sangat setuju (SS) dan setuju (S). Sedang tanggapan negatif ditunjukkan dengan jawaban tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Keberhasilan tindakan dapat dilihat dari peningkatan tanggapan positif siswa dan menurunnya tanggapan negatif siswa.
       
b. Lembar observasi Aktivitas Siswa
         Lembar observasi merupakan instrumen yang digunakan untuk mengamati keterlaksanaan aspek-aspek nasionalisme pada siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian dilakukan dengan membubuhkan nilai A (amat baik), B (baik), C (cukup), dan K (kurang). Keberhasilan tindakan ditunjukkan dengan peningkatan persentase siswa yang memperoleh penilaian A dan B pada setiap aspek, dan menurunnya persentase siswa yang memperoleh penilaian C dan K.
       
c. Pre Tes dan Post Tes
         Pelaksanaan pre tes dan pos tes dimaksudkan untuk melihat adanya peningkatan hasil dari segi kognitif. Meningkatnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran, akan berdampak pada peningkatan nilai nasionalisme siswa. Dengan demikian, keberhasilan dari tindakan ini dapat dilihat dari meningkatnya persentase ketuntasan siswa dari pre tes ke post tes.
 
A. Kesimpulan
       Hasil Penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Penerapan outdoor activities pada siklus I dengan observasi di Kantor Kecamatan Semin dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa, yang ditunjukkan dengan tanggapan positif siswa sebesar 61,05 % sebelum tindakan menjadi 72,11 %.
2.      Penerapan outdoor activities pada siklus II dengan kegiatan di Perpustakaan Sekolah dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa, yang ditunjukkan dengan tanggapan positif siswa sebesar 72,89 % sebelum tindakan menjadi 83,95 %.
3.      Penerapan Penerapan outdoor activities pada siklus III dengan observasi di Pasar Semin dapat meningkatkan nilai nasionalisme pada siswa, yang ditunjukkan dengan tanggapan positif siswa sebesar 82,11 % sebelum tindakan menjadi 91,84 %.
         Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas tentang peningkatan nilai nasionalisme dalam pembelajaran IPS melalui outdoor activities dapat disimpulkan bahwa upaya untuk meningkatkan nilai nasionalisme dapat ditempuh dengan menggunakan kegiatan pembelajaran di luar kelas. Penerapan outdoor activities memungkinkan siswa dan guru menggunakan benda, bangunan, manusia sebagai nara sumber dan sumber pembelajaran. Selain itu, setting pembelajaran yang tidak terbatas pada sebuah ruangan memungkinkan siswa memiliki kebebasan dalam beraktivitas dalam pembelajaran, sehingga siswa mendapatkan suasana baru. Siswa menjadi lebih berminat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.

B. Saran-saran
          Berdasarkan hasil penelitian tindkan yang telah dilakukan, maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan outdoor melibatkan pihak lain dalam kegiatan pembelajaran, sehingga perlu persiapan yang baik, menyangkut waktu maupun perijinan.
2.      Kepala Sekolah diharapkan dapat mendorong guru IPS khususnya dan mata pelajaran lainnya untuk menerapkan outdoor activities sebagai upaya meningkatkan nilai nasionalisme di kalangan siswa SMP Muhammadiyah Semin.
3.      Outdoor activities dapat diterapkan pada mata pelajaran lain, tidak hanya pada mata pelajaran IPS.
4.      Melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), guru-guru mata pelajaran IPS dapat bekerjasama menyusun rencana outdoor activities.
5.      Melalui kerja sama dengan pihak Pemerintah Daerah, kegiatan outdoor dapat digunakan sebagai media untuk memperkenalkan potensi daerah kepada peserta didik secara dini.



DAFTAR PUSTAKA

Asri Budiningsih, C (2004). Pengembangan kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Yogyakarta: Universitas Yogyakarta.
Barth, J.L (1990). Method of instruction in social studies education. New York: University Press of America.
Bertens, K. (2005). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Depdiknas (2005). Panduan pengembangan silabus mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). Jakarta: Depdiknas
Depdiknas (2003). Pendekatan kontekstual. Jakarta. Depdiknas.
De Porter, Bobbi (1999).Quantum Learning.Bandung: Kaifa
Dimyati & Mudjiono (2002). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT Rieneka Cipta.
Dryden, Gordon & Jeannette Vos (2004). The learning revolution (Revolusi Cara Belajar). Bandung: Penerbit Kaifa.
Jarolimek, (1986). Social studies in elementary education. New York: Macmillan Publishing Company.
Johnson, Elaine B. (2007). Contextual teaching & learning. (Terjemahan Ibnu Setiawan) California: Corwin Press, Inc., Thousand Oaks. (Buku asli terbit tahun 2002).
Kemmis, S & Tagaart, R (1988). The action research planner. Victoria: Deakin University
Kohn, Hans (1995). Nasionalisme arti dan sejarahnya. (Terjemahan Sumantri Mertodipuro). Jakarta: Pembangunan dan Penerbit Erlangga.
Kirchenbaum, H (1995). 100 Ways to enchance values and morality in two schools and youth setting. Boston: Long WoodnProffesionals Book.
K-12 Social Studies (2003/2004). North Carolina Social Studies Standard Cours of Study)
Linda, N & Eyre Richard (1995). Teaching Your Children Values. New York: Simon Sand Chuster.
Mc Tagaart, Robin. (1991). Action research a short modern history. Geelong, Victoria: Deakin University.
Martorella, P.H. (1994). Social studies for elementary school children, developing young citizen. New York: Merill.
Muchlas Samani, dkk (2003). Pembinaan profesi guru. Jakarta: Depdiknas.
Muhamad Ali.(2004). Guru dalam proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Muhammad Idrus, (2005). Carut marut dunia pendidikan. Jurnal Socia. Volume 2, Nomor 2 Desember 2005
Nasution, S (1989). Kurikulum dan pengajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Puskur (2006). Model pengembangan silabus mata pelajaran dan rencana pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). Jakarta. Depdiknas.
Rahmat Mulyana (2004). Mengartikulasikan pendidikan nilai. Bandung: PT Gramdia.
Saidihardjo (2005). Tinjauan kritis metode pembelajaran IPS dalam kerangka kurikulum berbasis kompetensi. Jurnal Studi Sosial volume 1/No. 01/Agustus 2005.
Saidihardjo (2004). Pengembangan kurikulum ilmu pengetahuan sosial (IPS). Yogyakarta. Universitas Yogyakarta.
Suryanto (2006). Dinamika pendidikann asional (Dalam Percaturan Dunia Global). Jakarta: PSAP Muhammadiyah.
Turman Kahin ,George Mc (1995). Nasionalisme dan revolusi di Indonesia. UNS Press dan Pustaka Harapan Timur.
Winkel, WS. (1986). Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia.
Clifford, Mathew & Marica. (2000). Contextual teaching, professional learning, and student experiences: lessons learned from implementation. Diakses tanggal 7 Juli 2007 dari http://www.cew.wisc.edu/teachnet.
 

PTK : Peg System

Implementasi Metode Peg System Untuk meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS Di SMP Muhammadiyah Semin
 
Oleh Sudadi, M.Pd. 


BAB  I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
            Kegiatan pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan yang setua dengan adanya manusia. Hal ini berarti bahwa sejak adanya manusia sudah ada usaha – usaha pendidikan., dalam rangka memberikan kemampuan pada subyek didik untuk hidup secara mandiri di masyarakat. Isi , bentuk, tujuan serta proses pendidikan dari satu periode ke periode berikutnya nampak terlihat berbeda, namun secara hakiki ada hal yang sama  yaitu adanya proses keikutsertaan dan keterlibatan anak dalam proses pendidikan walaupun sudah barang tentu kadarnya berbeda. Dalam perkembangan selanjutnya menununjukan bahwa semakin tinggi keterlibatan siswa dalam pembelajaran peluang keberhasilan pendidikan itu akan semakin tinggi.
           Sejalan dengan pernyataan diatas Willaiam Burton menyatakan
 “ Teaching is the guidance of learning activities”  mengajar pada hakekatnya adalah membimbing  kegiatan siswa belajar.(Saidihardjo : 2004 : 13 ) Dengan demikian pembelejaran idealnya berpusat pada siswa bukan pada guru. Dalam kaitanya dengan Pembelajaran IPS lebih lanjut Saidihardjo menjelaskan bahwa rasional Pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial pada pendidikan dasar dan menengah ditekankan pada siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna ; lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial rasional dan bertanggung jawab; meningkatkan rasa toleransi dan persaudaraan dilingkungannya sendiri dan antar manusia. .(Saidihardjo : 2004 : 31 ) Pembelajaran IPS harus ber-perspektif global. Perspektif global merupakan pandangan dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspektif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang berkaitan dengan isu global. (Idealnya tercermin dalam motto “ thingking globally and act locally”). Kumpulan para pakar ilmu sosial seluruh dunia yang berpusat di Amerika yang tergabung dalam wadah “ National Council for the Sosial Studies “ ( NCSS) pada tahun 1994 memberikan sejumlah rambu-rambu kapan pembelajaran IPS akan menjadi sangat kuat (powerful) apabila; 1) Terasa bermakna, yaitu bila siswa mampu menghubungkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dipelajari di sekolah dan luar sekolah, penyampaian bahan ajar ditujukan pada pemahaman, apresiasi dan aplikasinya dalam kehidupan.2) Pendekatan Integratif, yaitu terintegrasi pengetahuan, ketrampilan, sikap, nilai, kepercayaan dan keperbuatan nyata, 3) Berbasis nilai, khususnya menyangkut isu kontroversial yang memberikan ruang berefleksi dan bereaksi sebagai anggota masyarakat, bersikap kritis terhadap isu dan kebijakan sosial, serta menghargai perbedaan pandangan, 4) Bersifat menantang; siswa ditantang untuk mencapai tujuan pembelajaran baik secara individual maupun sebagai anggota kelompok, guru sebagai model untuk mencapai kualitas sesuai standar yang diinginkan, guru lebih menghargai pendapat siswa dengan alasan yang baik daripada pendapat asal-asalan.dan 5) Bersifat aktif, memberi kesempatan berfikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran, pengajaran harus berbasis aktivitas  yang dapat ditemui dilingkungan social. (Kisworo :Makalah :Pembelajaran IPS : 2008 ) 
               Konsep ideal diatas jika kita gunakan memandang realitas dilapangan dalam pembelajaranm Ilmu Pengetahuan sosial seperti kata pepatah masih jauh panggang dari api . Pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial di Sekolah masih banyak menganut pembelajaran konvensional seperti ceramah, sehingga peran siswa dalam pembelajaran cenderung pasif. Pelajaran Ilmu pengetahuan sosial cenderung hanya dihafal dalam rangka mengejar target kurikulum yang sedang berlaku sehingga guru terjebak dalam metode pembelajaran yang monoton, statis tidak terpacu untuk menggunakan metode secara variatif.
               Mencermati dari permasalahan tersebut diatas maka perlu adanya strategi metode pembelajaran yang mampu menarik siswa untuk mengembangkan  kemampuannya melalui pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial.  Dalam panadangan penulis salah satu alternative untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa yakni dengan mengimplementasikan metode pembelajaran Peg Sistem.  Peg System adalah  suatu metode untuk memahami berbagai data  secara bersamaan dengan menggunakan berbagai symbol yang disusun dalam bentuk grafik.(Neuroscience Superlearning : III : 2006 : 57 )
               Dengan implementasi model pembelajaran peg system diharapkan pembelajaran menjadi lebih hidup dan aktif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa  yang pada akhirnya berpengaruh pula pada prestasi belajar siswa  dalam mata pelajaran Ilmu pengetahuan Sosial di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta.

  B. Identifikasi Masalah
        Memahami dari latar belakang tersebut diatas maka dapat diidentifikasi masalah yang berkaitan dengan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Muhammadiyah Semin Gunungkidul sebagai berikut :   
1. Kegiatan Pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial berpusat pada guru
2. Selama Kegiatan belajar mengajar murid terampas kesempatanya untuk berbuat lebih aktif
3. Kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terjebak dalam metode konvensional tanpa ada variasi dengan metoda yang lain.
4. Pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial menjadi membosankan karena monoton dan terkesan merupakan serentetan data yang harus dihafal saja.
5. Selama Kegiatan Pembelajaran tidak tercipta komunikasi aktif antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa.
6. Pembelajaran Ilmu penegetahuan social tidak membangkitkan motivasi aktivitas dan kreativitas belajar siswa
7. Siswa malas dan tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan sosial
8. Prestasi belajar siswa rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain
C. Pembatasan Masalah
        Sejalan dengan permasalahan yang sudah teridentifikasi dan berangkat dari Kesadaran  akan keterbatasan waktu, tenaga dan kemampuan peneliti maka dalam hal ini peneliti mengkonsentrasikan penelitian ini hanya pada Pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial dengan metode pembelajaran Peg system dalam kerangka Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan pada SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul. Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta.
D. Perumusan Masalah
        Berdasarkan  dari uraian pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana implementasi pembelajaran Metoda Peg system dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX E di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
2. Bagaimana implementasi pembelajaran Metoda Peg system dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX E di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
3. Bagaimana implementasi pembelajaran Metoda Peg system dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX E di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
       
E. Tujuan Penelitian
         Selaras dengan apa yang telah tertuang dalam latar belakang masalah pembatasan masalah dan perumusan masalah maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode Peg system pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan sosial kelas IX E di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
2. Meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode Peg system pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan sosial kelas IX E di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
3. Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode Peg system pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan sosial kelas IX E di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
F. Manfaat Penelitian
        Hasil penelitian tindakankelas ini diharapkan akan mempunyai andil dalam pengembangan dan peningkatan motivasi, aktivitas dan Prestasi belajar Imu Pengetahuan Sosial bagi :
1. Siswa
Meningkatkan semangat dan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial
2. Guru
Dalam penyampaian materi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan sosial lebih effektif, kreatif dan lebih menarik.
3. Sekolah
Meningkatkan kinerja sekolah dalam kegiatan pembelajaran Ilmu pengetahuan sosial.

BAB  II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS


A. Deskripsi Teoritis
1. Konsep Belajar dan Pembelajaran
a. Pengertian Belajar
Bower dan Hilgard (1981: 11) menjelaskan bahwa belajar adalah :   
Learning refers to the change in subject’s behavior or behavior potential to agiven situation brought about by the subject’s repeated experience in that situation, provided that the behavior change cannot be explained on the basis of subject’s  native response tendencies, maturation, or temporary states ( such as fatigue, drunkenness, and so on)
    Dari sini dapat dipahami bahwa belajar adalah mengacu pada perubahan perilaku  atau potensi individu sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan itu tidak disebabkan oleh instink, kematangan dan keadaan sementara seperti lelah, mabuk dan lain lain.
    Dengan  ungkapan yang hampir senada Moh . Surya (1981:32) menyebutkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Sementara itu Dimyati Mahmud (1989:121) mengungunkapkan pengertian belajar adalah  suatu perubahan perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, dan terjadi pada diri seseorang karena pengalaman.
    Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relative menetap, baik yang dapat diamati maupun  yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.



b. Pengertian Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar .Interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran.(Saidihardjo : 2004 : 13) Berdasrkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  itu mempunyai karakter pokok pertama meningkatkan dan mendukung proses belajar siswa.kedua adanya interaksi yang dilakuakan dengan sengaja. Interaksi ini terjadi antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajar, baik dengan guru siswa lainnya atau sumber belajar lainnya.
    Dalam pembelajaran idealnya guru dapat menciptakan situasi yang kondusif serta memberi motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitasnya. Jadi pembelajaran dilihat dari sisi guru adalah menumbuhkan proses belajar siswa ,tidak hanya menyampaikan pelalajaran dan semata-mata mengejar target kurikulum. Karena mengajar adalah mengatur dan mengkondidisikan  lingkungan belajar siswa sehingga terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya.
    Adapun Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
       Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
              Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
              Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
       Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
       Permodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
       Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
       Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.(http://Bandono.web:2008)
c.  Pengertian Motivasi

    Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya upaya yang mendorong sesorang untuk melakukan sesuatu. Motif daoat diartikan sebagai daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari akar kata motif inilah motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjdi aktif .
    Menurut Sardiman(:2003:75) motivasi dapat diartikan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan apabila tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan perasaan itu.  Dengan ungkapan yang hampir senada Hani handoko (1997: 252) menyatakan bahwa motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
    Dalam kaitanya dengan kegiatan belajar mengajar motivasi dapat diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegitan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat tercapai
    Salah satu karakteristik pokok dalam motivasi menurut Prasetya Irawan (1985:60) adalah sikap tekun menghadapi tugas, tidak mudah menyerah atau putus asa  jika menghadapi kesulitan. Sementara itu Dimyati ( 2002: 85) menyatakan bahwa motivasi belajar siswa dapat membangkitkan, meningkatkan dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil.
d. Aktivitas dalam belajar
    Aktivitas belajar yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam realitanya kedua hal tersebuat saling berjalin berkelindan apalagi dalam kegiatan aktivitas belajar. Menurut Piaget seorang anak itu berfikir sepanjang ia berbuat , tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berfikir.               ( Sardiman : 2003 : 100) Maka agar anak berfikir sendiri guru harus memberi kesempatan untuk berbuat sendiri.
    Berfikir pada tahap verbal baru akan dapat dilakukian anak setelah anak itu berfikir pada taraf perbuatan. Hubungan antar kegiatan fisik dan mental akan membuahkan hasil belajar yang optimal.Sardiman ( 2003 : 101) mengklasifikasikan aktivitas belajar meliputi ; Visual activity, Oral activities, Listening Activities, Writing Activities, Drawing activities, Motor Activities, dan Mental activities.
e. Prestasi Belajar
        Apabila usaha sesorang telah menghasilkan suatu pola tingkah laku seperti yang direncanakan , itu artinya ia telah mencapai prestasi belajar.(Winarno Surakhmad : 2003: 136) Dalam ungkapan lain Winkel ( 1991: 65) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah menemukan prinsip pemecahan pada suatu problem yang menuntut seseorang menguasai kaidah kaidah tertentu.setelah konsep konsep tertentu dikuasai. Seterusnya
    Dalam kaitanya upaya memperoleh prestasi belajar yang optimal Dewa ketut Sukardi (1983) mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Hal ini harus diperhatikan bagi seorang pendidik untuk dapat menghantarkan anak didiknya pada prestasi yang memuaskan. Faktor factor tersebut yaitu : Faktor Fisiologis : Faktor ini meliputi kondisi jasmaniah anak dan juga kondisi psikis. : Faktor Bahan yang harus dipelajari ; Faktor alat perlengkapan belajar ; Faktror Lingkunganl dalam belajar. Lingkungan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Lingkungan Alami yang meliputi iklim , udara dan lain-lain serta Lingkungan social  diantaranya suasan kehidupan sehari-hari, keadaan ekonomi dan lain lain.
  2. Pembelajaran Ilmu Penegetahuan Sosial di SMP
Indra Jati Sidi (2003:5) dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa
 Pengetahuan social sebagai suatu mata pelajaran menjadi wahana dan alat siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan antara lain : Siapa dirinya ditengah atau dihadapan orang lain dan masyarakat ? Masyarakat apakah yang dimiliki ? Persyaratan - persyaratan apakah yang diperlukan dirinya untuk menjadi untuk menjadi anggota suatu masyarakat dan bangsa ? Apakah artinya menjadi anggota masyarakat dan bangsa dan dunia ? Bagaimanakah kehidupan masyarakat berubah dari waktu kewaktu ?   
     Dari pernyataan diatas dapat dipahami bahwa pembelajaran Ilmu Pengetahuan  sosial dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang selalu berubah dan berkembang sepanjang masa. Dalam ungkapan lain Saidihardjo (2004:31)  menyatakan bahwa pembelajaran Ilmu Pengetahuan sosial  utamanya di tingkat pendidikan dasar dan menengah didesain agar siswa dapat  mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau keampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya agar menjaadi lebih bermakna.
    Memahami orientasi pembelajaran diatas dalam kaitanya dengan tugas guru Suciati (2002)menjelaskan, bahwa guru dalam konteks ini harus secara professional menggunakan segala pengetahuan, kepribadian dan ketrampilannya untuk mempengaruhi dan mengarahkan siswa. Melalui kegiatan pembelajaran guru dapat membantu siswa untuk menegembangkan kemandirian dan kepercayaan diri serta rasa antusias untuk mengerjakan tugas tugas selanjutnya.dalam suasana kelas yang memberi rasa aman dan nyaman kepada siswa.                
f. Pengertian Peg System
        Peg System adalah suatu metoda untuk memahami berbagai data  secara bersamaan dengan menggunakan berbagai symbol yang disusun dalam bentuk grafik (Neuroscience Super Teaching : Perode 2 : 57)
      
g. Kajian Hasil Penelitian Yang relevan
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Rosalia Susila Purwanti (2006) yang berjudul “ Peningkatan Pembelajaran IPS dengan Impelementasi Model Learning Community di SMP 4 Gamping” berkesimpulan bahwa dari hasil tes yang diberikan pada akhir disetiap siklus dengan penerapan Pembelajaran Learning Community , terdapat peningkatan pretasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Sudadi (2006) yang berjudul “ Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sejarah  melalui Tugas Membuat kartu siswa kelas IX B semester gasal Tahun 2006 di SMP Muhammadiyah Semin”  berkesimpulan bahwa dari hasil tes yang diberikan pada akhir di setiap siklus dengan penerapan Tugas membuat kartu  terdapat peningkatan pretasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.khususnya sejarah.
h. Kerangka Berfikir
        Setiap kegiatan belajar yang berlangsung hendaknya melibatkan seluruh siswa sehingga siswa tersebut dapat berpartisipasi aktif dalam topik yang sedang di bicarakan. Siswa akan berhasil dengan baik bila dalam pembelajaran dapat berpartisipasi secara aktif. Sehingga upaya untuk senantiasa memupuk kretifitas siswa dalam belajar siswa merupakan sebuah keharusan, yang harus dilakukan oleh seorang guru.
        Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu dengan menggunakan metoda pembelajaran Peg System. Karena metode peg system akan menuntun siswa untuk berkreativitas dengan imajinasinya untuk dituangkan dalam bentuk symbol baik symbol dalam bentuk gambar, angka ataupun akronim/singkatan.Hasil dari imajinasi kreatif siswa ini selanjutnya disajikan dalam bentuk data statistik. Karena imajinasi ini dilakukan secara pribadi atau kelompok maka yang dapat memahami hanya yang membuat atau kelompok yang bersangkutan.
        Metoda Peg Sistem tidak hanya memupuk kretivitas siswa secara personal maupun group namun juga menghantarkan siswa untuk dapat menghayati materi yang diajarkan guru, karena sesudah seluruh materi yang tersajikan dalam bentuk data ststistik siwa dituntut untuk memaparkan hasil imajinasi kreatifnya iitu dihadapan guru dan teman temanya.
       
i. Pengajuan Hipotesis   
        Berdasarkan kerangka berfikir sebagaimana terurai diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
1. Implementasi metode Peg System dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial Kelas IX E di SMP Muhammadiyah  Semin
2. Implementasi metode Peg System dapat meningkatkan aktivitas belajar  siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial Kelas IX E di SMP Muhammadiyah  Semin
3. Implementasi metode Peg System dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial Kelas IX E di SMP Muhammadiyah  Semin

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis penelitian
       Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom action research) yang menggunakan data kualitatif dan data kuantitatif.
B. Subjek penelitian
         Sasaran penelitian dalam penelitian tidakan kelas ini adalah  siswa kelas IX E SMP Muhammadiyah  Semin, tahun pelajaran 2007 /2008  jumlah  29 siswa dengan rincian laki–laki : 15 siswa dan perempuan :  14  siswa, pada mata pelajaran IPS. yang terletak di Dusun Semin, Desa Semin, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul , Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
C. Teknik pengumpulan data
           Penelitian  tindakan (action research) ini sasaranya adalah upaya meningkatkan prestasi belajar dan kemandirian belajar IPS siswa kelas IX E SMP Muhammadiyah Semin dengan metode peg system.
           Adapun data dalam penelitian ini diperoleh melalui pengamatan, catatan harian dan hasil tes. Secara rinci teknik pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut :
1.   Pengamatan
               Pengamatan dilakukan peneliti di kelas  dan pengamatan menggunakan lembar observasi meliputi pengamatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran/aktivitas, kreativitas serta konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran.
2. Catatan Harian.
Catatan ini meliputi guru dalam menentukan strategi dan media pembelajaran agar siswa setelah kegiatan pembelajaran pada standar kompetensi :memahami kegiatan pelaku ekonomi dalam masyarakat mata pelajaran IPS  mampu memahami dan menguasai materi pokok bahasan sehingga menguasai kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran..
3.  Observasi Aktivitas Kelas
Pengamatan kelas untuk merekam interaksi guru dan siswa dalam penanaman konsep yang meliputi suasana kelas, aktifitas siswa dalam kelas serta interaksi siswa dengan siswa lainya  dan interaksi siswa dengan sumber belajar .
D. Teknik analisis data, kuantitatif dan/atau kualitatif
               Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi hasil belajar dan kemandirian siswa pada mata pelajaran IPS dengan implementasi metode peg system pada siswa kelas IX E SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul. Maka analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dat yang bersifat kuantitatif untuk menghitung prosentase dan data kualitatif.
         Adapun komponen-komponen yang dianalisis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Analisis mengetahui perubahan prestasi belajar belajar siswa
           Analisis ini untuk mengetahuai adanya perubahan prestasi balajar siswa delakukan dengan membandingkan antara, ulangan dilaksanakan sebelum tindakan atau pada awal pembelajaran, dengan ulangan  dilaksanakan sesudah tindakan atau dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Nilai hasil ulangan pra siklus dan setelah siklus dianalisis berdasarkan pedoman penilaian. Pedoman penilaian test adalah sebagai berikut  : jumlah soal terdiri dari 20, setiap soal skornya 5, jadi jumlah skor semua 100. Maka nilai akhir antara 0-100
2. Analisis perubahan kemandirian belajar
         Pengukuran peningkatan kemandirian belajar pada siswa diperoleh analisis jumlah siswa yang belajar secara mandiri dikelas IXB. berhasil jika jumlah siswa yang mandiri > 65% dan  tidak berhasil < 65% .
      
E. Prosedur penelitian
           Prosedur penelitian  tindakan kelas pada pembelajaran ini direncanakan 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan adanya perubahan yang ingin dicapai. Adapun prosedur penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut : 1) Perencanaan. 2) Observasi.  3) Pelaksanaan Tindakan  4) Refleksi dalam setiap siklus.
          
1. Perencanaan
               Kegiatan tahab perencanaan adalah :
a. Membuat perencanaan atau skenario pembelajaran agar menarik dan mudah difahami sehingga pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat,  pembelajaran menjadi efektif dan efisien.
b. Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan belajar siswa di kelas sejauh mana perkembangan siswa dalam menguasai materi pembelajaran.
c. Merencanakan kegiatan belajar yang menggunakan metode peg system dan  pembuatan materi  pembelajaran dengan transparant.
d. Membuat alat evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman    materi pembelajaran  mata pelajaran IPS

2. Observasi
         Observasi dilakukan selama proses penelitian tindakan berlangsung. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan rencana yang dibuat sekaligus efek tindakan yang terjadi selama pembelajaran. Hasil observasi akan digunakan sebagai bahan refleksi apakah tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana atau belum sekaligus untuk mengetahui ketercapaian hasil tindakan.
         Kegiatan observasi disini peneliti dengan cermat dan saksama memperhatikan dan mencatat tindakan, gerakan, dan gejala yang muncul selama pembelajaran berlangsung.
3. Pelaksanaan Tindakan
Penelitian tindakan ini dalam pelaksanaanya akan dilakukan selama tiga siklus. Adapun setiap siklus akan dilaksanakan dengan tindakan selama empat minggu atau empat  dalam proses pembelajaran. rencana  tindakan untuk setiap siklus adalah sebagai berikut :
a. Pra Siklus
Materi pembelajaran yang diberikan pada pra siklus ini adalah standar kompetensi : Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumberdaya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas
 Dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan,  dengan tahapan sebagai berikut :
* Pertemuan pertama sampai ke tiga
1.   Pendahuluan
-  Guru membuka pelajaran  dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
-   Guru memberikan apersepsi tentang makhluk sosial dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
      2.   Kegiatan Inti
- Guru Menjelaskan materi pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab bervariasi
- Pada akhir pertemuan guru mempertegas setiap pokok bahasan pada setiap pertemuan.
       3. Kegiatan Penutup:
- Pembelajaran akhiri dengan do’a
*   Pertemuan keempat
- Pelaksanaan evaluasi/ulangan
b. Siklus Pertama
Materi pembelajaran yang diberikan pada siklus pertama adalah standar kompetensi : Mendeskripsikan perkembangan negara maju dan berkembang. Dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan, dengan tahapan sebagai berikut :
* Pertemuan pertama sampai ketiga
1.   Pendahuluan
-  Guru membuka pelajaran  dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
-   Guru memberikan apersepsi tentang makhluk sosial dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
      2.   Kegiatan Inti
- Guru Menjelaskan materi pembelajaran dengan menngunakan pendekatan metode pembelajaran peg system.
- Pada akhir pertemuan guru mempertegas setiap pokok bahasan.
    3. Kegiatan Penutup:
- Pembelajaran akhiri dengan do’a
* Pertemuan keempat
- Pelaksanaan evaluasi/ulangan
- Selesai tes guru mengkoreksi pekerjaan siswa,
         Dalam kegiatan pembelajaran ini sekaligus dilaksanakan tes untuk mengetahui perkembangan prestasi belajar siswa pada siklus I.. Kemudian hasil tes dianalisis berdasarkan pedoman penilaian dan keberhasilan siswa. Kemudian refleksi dari hasil refleksi  siklus pertama disusun data awal tentang prestasi belajar dan kemandirian belajar siswa kemudian dijadikan bahan penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus kedua.
c. Siklus Kedua
Berdasar hasil observasi, refleksi dan evaluasi pada siklus pertama maka siklus kedua merupakan kelanjutan pada siklus pertama. Adapun siklus kedua akam membahas materi : Perang dunia II dan Pendudukan Jepang di Indonesia
Pada siklus kedua ini akan memperbaiki kendala–kendala yang terjadi pada siklus pertama. Pembelajaran dilakukan dengan presentasi siswa.
*   Pertemuan pertama
1.   Pendahuluan
-  Guru membuka pelajaran  dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
-   Guru memberikan apersepsi tentang kegiatan di pasar
2.   Kegiatan Inti
-   Guru membuat kelompok menjadi 4 kelompok.
-   Setiap kelompok di beri tugas membuat materi presentasi dengan teransparant
         3. Kegiatan Penutup:
         - Guru memberikan tugas  untuk diselesaikan dirumah.
         - Pembelajaran akhiri dengan do’a
*   Pertemuan kedua dan ketiga
1.   Pendahuluan
-  Guru membuka pelajaran 
-   Guru memberikan tugas 2 kelompok setiap pertemuan  melakukan presentasi.
2.   Kegiatan Inti
-   Setiap kelompok melakukan presentasi menggunakan metode peg system  kelompok lain menanggapi
                 3. Kegiatan Penutup:
         - Guru menegaskan pokok materi..
         - Pembelajaran akhiri dengan do’a
* Pertemuan keempat
- Pelaksanaan evaluasi/ulangan



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN

        Dari seluruh uraian pemecahan masalah di atas dapat disimpulkan.
1. Metode pembelajaran peg system mendorong siswa lebih perhatian dan meningkatkan pemahaman materi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasibelajar.
2. Metode pembelajaran peg system mendorong siswa minat siswa dalambelajar baik dalam kelas maupun belajar dirumah sehingga meningkatkan kemandirian belajar


B. SARAN

           Penggunaan metode pembelajaran yang variatif ternyata mampu meningkatkan prestasi belajar dan kemandirian belajar siswa, maka sebaiknya guru menerapkan strategi belajar dan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi untuk menghindari kebosanan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar yang akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan


DAFTAR PUSTAKA


Bower,H.G.&Hilgard R.E. (1981) Theories of learning. London: prentice Hall inc
Dymiati (2002) Belajar Dan Pembelajaran : Jakarta : Rineka Cipta
Hani Handoko,T (1997) Manajemen, Yogyakarta: BPFE Yogyarta
Indra Jati sidi (2003) Kurikulum 2004 standar kompetensi mata pelajaran Pengetahuan sosial Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. :Jakarta: Depdiknas
Prasetya Irawan, Suciati, Wardani I G.A. K. et al (1995) .Teori belajar motivasi dan ketrampilan mengajar, Jakarta Dirjen Dikti
Saidihardjo (2004) Pengembangan Kurikulum Ilmu Pengetahuan sosial (IPS) Yogyakarta : PPS UNY
Sardiman AM (2003) Interaksi dan motivasi belajar mengajar, Jakarta : Raja Grafindo persada.
Suciati. (2002) Belajar dan pembelajaran 2 Jakarta : Universitas terbuka.
Tim Penyusun Buku Psikologi Pendidikan,(1991), psikologi pendidikan FKIP IKIP Yogyakarta: UPP IKIP Yogyakarta
Winarno Surakhmad . (2003) Pengantar interaksi belajar dasar dan tehnik metodologi pengajaran. Bandung : Tarsito
Winkel, W.S. ( 1991) Psikologi Pengajaran. Jakarta ; Grasindo
Kisworo,(2008)  Pembelajran IPS Bermakna: upy.co.id.
Bandono,(2008) Pembelajaran CTL, http//Bandono:Web
 

Penelitian Tindakan Kelas : PBL

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS DENGAN
IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING 
DI SMP MUHAMMADIYAH  SEMIN
KABUPATEN GUNUNGKIDULTAHUN 2009/2010

Oleh Sudadi, M.Pd.


BAB  I
PENDAHULUAN   

A. Latar Belakang Masalah
            Salah satu masalah urgen yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran dikelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi  yang diingatnya itu. Proses pembelajaran yang berjalan saat ini secara umum masih menempatkan anak sebagai obyek dan menempatkan guru pusat kegiatan pembelajaran. Peserta didik tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat berpartisipasi secara aktif untuk mengkonstruksi pengetahuan yang didapatnya.
           Sejalan dengan pernyataan diatas Willaiam Burton menyatakan  “ Teaching is the guidance of learning activities”  mengajar pada hakekatnya adalah membimbing  kegiatan siswa belajar (Saidihardjo : 2004 : 13 ). Dengan demikian pembelajaran idealnya berpusat pada siswa bukan pada guru. Dalam kaitanya dengan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial lebih lanjut Saidihardjo menjelaskan bahwa rasional Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada pendidikan dasar dan menengah ditekankan pada siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna ; lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial rasional dan bertanggung jawab; meningkatkan rasa toleransi dan persaudaraan dilingkungannya sendiri dan antar manusia (Saidihardjo : 2004 : 31 ).
            Kondisi ideal yang diharapkan dari hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di persekolahan dianggap belum sesuai dengan harapan, bahkan beberapa temuan penelitian dan pengamatan para ahli pendidikan memperkuat kesimpulan bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Indonesia belum maksimal karena perwujudan nilai-nilai sosial yang dikembangkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial masih belum begitu nampak aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Ketrampilan sosial para siswa lulusan masih memprihatinkan, terbukti dengan partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan semakin menyusut. Banyak penyebab yang melatarbelakangi mengapa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial belum dapat memberikan hasil seperti yang diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal pada kurikulum, rancangan, pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran lainnya.
        Mencermati dari permasalahan tersebut diatas maka perlu adanya strategi metode pembelajaran yang mampu menarik siswa untuk mengembangkan  kemampuannya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.  Dalam pandangan penulis salah satu alternative untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa yakni dengan mengimplementasikan metode pembelajaran problem based learning.  Problem based learning  adalah  lingkungan belajar yang didalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran yang dipelajari ( Sudarman , 2007 : 69 ).
               Dengan implementasi model pembelajaran problem based learning diharapkan pembelajaran menjadi lebih hidup dan aktif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa  yang pada akhirnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa  dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul  Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
        Berdasarkan  dari uraian pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana implementasi pembelajaran dengan metoda problem based learning  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
2. Bagaimana implementasi pembelajaran metoda problem based learning  dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
3. Bagaimana implementasi pembelajaran metode problem based learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
C. Rencana Pemecahan Masalah
        Rencana pemecahan masalah yang akan digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning. Dengan problem based learning diharapkan  motivasi, aktivitas dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat meningkat dari siklus I sampai pada siklus berikutnya, dibandingkan dengan kondisi awal yang masih menggunakan pembelajaran konvensional.
D. Tujuan Penelitian
         Selaras dengan apa yang telah tertuang dalam latar belakang masalah pembatasan masalah dan perumusan masalah maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode problem based learning pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  kelas IX A  di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
2. Meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode problem based learning  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul
3. Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran dengan metode problem based learning  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas IX A di SMP Muhammadiyah Semin Kabupaten Gunungkidul.
E. Manfaat Penelitian   
1. Manfaat teoritis
2.  Mendukung teori – teori pembelajaran kontekstual dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran.
a. Sebagai referensi ilmiah bagi para peneliti lain yang berupaya mengembangkan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.
b.  Mengembangkan strategi belajar mengajar khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
3. Manfaat praktis
a.  Bagi sekolah hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam upaya meningkatkan kinerja sekolah dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
b. Bagi guru dapat dijadikan referensi acuan dalam upaya peningkatan  pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial agar dapat lebih effektif, kreatif dan lebih menarik.
c.   Dapat mengevaluasi berbagai kelemahan siswa dan guru atas hasil belajar yang dicapai sebagai bahan pertimbangan untuk pembelajaran selanjutnya.
d. Mengembangkan kecakapan hidup melalui pemikiran kritis dalam pemecahan masalah.
F. Hipotesis Tindakan   
Berdasarkan kerangka berfikir sebagaimana terurai diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
a) Implementasi metode Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX A  di SMP Muhammadiyah  Semin Gunungkidul.
b) Implementasi metode Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar  siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX A di SMP Muhammadiyah  Semin Gunungkidul
c) Implementasi metode Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX A  di SMP Muhammadiyah  Semin Gunungkidul

BAB  II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian  Teori
1. Konsep Belajar dan Pembelajaran
a. Pengertian Belajar
       Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan (Suprayekti : 2004: 2). Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, ketrampilan dan sikap. Belajar juga dapat dipahami sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Tim Penulisan Buku Psikologi Pendidikan :1991:61). Dengan ungkapan lain Martinis Yamin( 2007: 96) mengungkapkan belajar merupakan proses memperoleh kecakapan, ketrampilan, dan sikap.
    Lebih lanjut  Hilgard  (1981: 11) menjelaskan bahwa belajar adalah :   
Learning refers to the change in subject’s behavior or behavior potential to agiven situation brought about by the subject’s repeated experience in that situation, provided that the behavior change cannot be explained on the basis of subject’s  native response tendencies, maturation, or temporary states ( such as fatigue, drunkenness, and so on).
    Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik garis kesimpulan  bahwa belajar itu mempunyai ciri-ciri atau karakteristik yaitu : Pertama belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkahlaku. Ini artinya hasil belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku. Kedua Perubahan perilaku relative permanen ini berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk jangka waktu tertentu. Ketiga tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relative menetap, baik yang dapat diamati maupun  yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.
b. Pengertian Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar .Interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran (Saidihardjo : 2004 : 13). Pembelajaran merupakan proses membuat orang belajar dengan merekayasa lingkungan untuk memudahkan orang belajar. Kegiatan pembelajaran berupaya merumuskan cara terbaik agar individu dapat belajar dengan mudah. Pendidik bukan hanya berfungsi memberikan materi saja melainkan memanfaatkan segala potensi lingkungan belajar (media, sumber informasi belajar, dan lainnya) bagi pencapaian tujuan belajar yang diharapkan. Bruce weil ( Wina sanjaya : 2008: 216-217) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran; pertama proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Kedua berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang dipelajari, yaitu pengetahuan : fisis, social dan logika. Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan social.
    Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  itu mempunyai karakter pokok pertama meningkatkan dan mendukung proses belajar siswa.kedua adanya interaksi yang dilakukan dengan sengaja. Interaksi ini terjadi antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajar, baik dengan guru siswa lainnya atau sumber belajar lainnya.   
c.  Motivasi
    1) Pengertian Motivasi
    Dalam kamus besar Bahasa Indonesia motivasi diartikan sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia : 1995 : 666). Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat diartikan sebagai daya penggerak dari dalam untuk melakukan aktivitas aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari akar kata motif inilah motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif .   
    2)Fungsi Motivasi dalam Belajar
    Menurut Sardiman A.M., (2003:85), ada tiga fungsi motivasi, yaitu :
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai rumusan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tersebut.
    Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ketiga, Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
    3) Unsur –unsur yang mempengaruhi motivasi Belajar
          Dimyati dan Mudjiono (2002 : 97-100) menyatakan bahwa unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut :
a) Cita-cita atau aspirasi siswa
b) Kemampuan siswa
c) Kondisi siswa
d) Kondisi lingkungan siswa
e) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
f) Upaya guru dalam membelajarkan siswa
    4) Bentuk-bentuk motivasi dalam belajar
            Dalam proses interaksi belajar mengajar, naiknya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong siswa agar tekun belajar. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada di antara siswa yang kurang berminat mengikuti pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing siswa dalam belajar.
       Menurut Sardiman (2003 : 92-95), ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar siswa di kelas, yaitu :
a) Memberi angka
b) Hadiah
c) Kompetisi
d) Ego-involment
e) Memberi ulangan
f) Mengetahui hasil test
g) Pujian
h) Hukuman
i) Hasrat untuk belajar
j) Minat
k) Tujuan yang diakui
    5) Ciri-ciri siswa yang mempunyai motivasi   
            Menurut Sardiman A.M. (2003 : 83), ciri-ciri orang yang memiliki motivasi adalah sebagai berikut :
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai)
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan dengan prestasi yang sudah dicapainya)
c. Menunjukkan minat terhadap beracam-macam masalah untuk orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadailan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak criminal, amoral dan sebagainya).
d. Lebih senang kerja mandiri
e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sejhingga kurang kreatif)
f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
h. Senang mencari dan memecahkan masalah /soal-soal.
       Berdasarkan uraian diatas maka disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar sehingga siswa menjadi tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja sendiri, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini, senang mencari dan memecahkan soal-soal.
      
d. Aktivitas dalam belajar
    Aktivitas belajar yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam realitanya kedua hal tersebuat saling berjalin berkelindan apalagi dalam kegiatan aktivitas belajar. Menurut Piaget seorang anak itu berfikir sepanjang ia berbuat , tanpa perbuatan berarti anak itu tidak berfikir ( Sardiman : 2003 : 100). Maka agar anak berfikir sendiri guru harus memberi kesempatan untuk berbuat sendiri.    Berfikir pada tahap verbal baru akan dapat dilakukian anak setelah anak itu berfikir pada taraf perbuatan. Hubungan antar kegiatan fisik dan mental akan membuahkan hasil belajar yang optimal. Aktivitas belajar akan dapat berjalan dengan baik manakala peserta didik memiliki minat yang besar terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung, sehingga menumbuhkan minat siswa menjadi kegiatan kunci untuk menghantarkan siswa pada aktivitas belajar ( Suyanto dan MS Abbas : 2001 : 66). Berkaitan dengan aktivitas belajar Mehl-Millis-Dauglas mengungkapkan mengenai The Principle of Activity yaitu
    ” One learns only by some activities in the neural system : seeing, hearing, smelling, feeling, thinking, phycal or motor activity. The learner must activelly engage in the ”learning” wheter it be of information a skill, an understanding , a habit, an ideal, an attitute, an interest, or the nature of task. (Oemar Hamalik:2007: 172). 
            Penggunaan asas aktivitas dalam pembelajaran akan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi keberhasilan peserta didik karena dengan terlibatnya siswa secara riil dalam kegiatan pembelajaran siswa dapat menggali pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri, siswa dapat berbuat sendiri sehingga akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral. Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya (Shvoong : 2010 :1 ).
        Paul D. Dierich, dalam Oemar Hamalik (2001 : 172) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu (1) Kegiatan-kegiatan Visual, Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan bermain. (2) Kegiatan-kegiatan Lisan (oral) Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi. (3) Kegiatan-kegiatan  mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.(4) Kegiatan-kegiatan menulis : Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket. (5.) Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola. (6) Kegiatan-kegiatan metric: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun. (7) Kegiatan-kegiatan mental : merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan.( 8) Kegiatan-kegiatan emosional minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.
    Berdasarkan pengertian aktivitas tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.
e. Prestasi Belajar   
        Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya kegiatan  belajar yang telah dilakukan. Muray dalam Beck  mendefinisikan prestasi  :
“To overcome obstacle, to exercise power, to strive to do something difficult as well and as quickly as possible” “Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin” (Sunarto : 2009:1).
        Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas belajar, karena aktivitas belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan.
        Ada korelasi antara motivasi untuk berprestasi dengan prestasi belajar, dalam hubungannya dengan masalah ini Johnson mengungkapkan “
The theory of achievement motivation … does not say that there should be a general relationship between achievement motivation and academic performance. On the contrary, it states that under certain conditions, there will be a strong relationship, under other conditions there will be no relationship (Djaali : 2007 : 110).
        Korelasi antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar akan amat tergantung dengan  kondisi dalam lingkungan dan kondisi individu yang bersangkutan. Motivasi yang tinggi yang tidak mendapat kondisi lingkungan yang mendukung akan sulit melahirkan prestasi belajar yang baik. Sehubungan dengan prestasi belajar, Ngalim Poerwanto (2006:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.”
        Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
3. Problem Based Learning
a. Pengertian Problem Based Learning
Problem-based learning (PBL) is a student-centered instructional strategy in which students collaboratively solve problems and reflect on their experiences.(Wikipedia : 2010 : 1) Dalam ungkapan hampir senada dalam artikel University Deware diungkapkan “Problem-based learning (PBL) is an instructional method that challenges students to "learn to learn," working cooperatively in groups to seek solutions to real world problems. (University Delaware : 1999 : 1)
        Problem based learning atau strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) memiliki tiga ciri utama  yaitu : pertama SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran ini artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah aktivitas yang haris dilakukan siswa. Kedua  aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah karena dalam SPBM menempatkan masalah sebagai kunci dari proses pembelajaran. Ketiga pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir ilmiah (Wina Sanjaya : 2008 : 214).  Problem Based Learning (PBL) merupakan metoda pembelajaran berdasarkan pada prinsip penggunaan kasus (masalah) sebagai titik pangkal untuk mendapatkan dan mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang baru (HS. Barrows, 1982 dalam Ahmad aulia Yusuf : 2009).  Kiley, M., Mulins, G., & Peterson, R. and Tim Rogers  menjelaskan mengenai problem based learning
        “In problem-based learning students learn to be self-directed, independent and interdependent learners motivated to solve a problem. In a PBL course student meet together in small group with a tutor to discuss a set problem. Initially the student explore the problem and formulate hypotheses that might explain the problem. They use this information to determine the further information they require to understand and solve the problem. Student then independently research and gather information that confirms/disconfirms their hypotheses and generates new understandings. These new understandings are presented to the group, which then considers all the information brought in by its members” (Kiley, M., Mulins, G., & Peterson, R. and Tim Rogers, 1969:1 dalam Wahyudi : 2009 : 1).   
    
b. Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning
        Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, (Aston L. Toruan : 2007 :5) dalam kaitanya pembelajaran dengan model Problem Based learning  yaitu :Learning to know, Learning to do Learning to do , Learning to live together , Learning to be . Pertama, Learning to Know yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan. Kedua, Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi koflik. Ketiga, Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka. Keempat, Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi). Di dalam Harian Jakarta Post berkaitan dengan Pembelajaran dengan Model Prolem based learning dinyatakan  “This highlights that PBL is an effective method to encourage students to analyze and think critically. And it is hoped that by thinking critically, in the future, people (students) would not simply imitate existing mathematical methods, but would create and pioneer new approaches.” ( The Jakarta Post : Tue, 02/09/2010)
B. Kerangka Berfikir
    Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes, unjuk kerja (performance), penugasan (Proyek), hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.
       Pembelajaran model Problem Based Learning berlangung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa megerti apa makna belajar, apa manfaatya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang bergua bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide.

DAFTAR PUSTAKA

Arief Achmad MSP, (2004), Quo Vadis, Pendidikan IPS  Di Indonesia, Artikel  diakses pada tanggal 17 Januari 2010 dari http://re-searchengines.com/ mangkoes6-04-4.html
Asri Budiningsih, (2005) Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta, PT Rineka Cipta
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, (2007) Teori Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta, Arr-Ruzz Media
Barbara K. Given, (2007). Brain, Based Teaching, Bandung. Kaifa
Basuki Wibawa (2004) Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Depdiknas
Bower, H.G & Higard, R.E. (1981) Theories of learning, London : Prentice Hall inc
Depdiknas, (2007) Buku Saku KTSP SMP, Jakarta, Depdiknas.
Depdiknas, (2006) Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP/MTs/SMPLB, Jakarta. Depdiknas
Depdiknas (2004) Kurikulum -2004 Standar Kompetensi SMP dan  MTs, Jakarta, Dharma Bhakti
Dimyati dan Mudjiono, (2006). Belajar Dan Pembelajaran, Jakarta,  PT  Rineka Cipta
Djaali, (2007) Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT Bumi Aksara
Hery Sukarman, (2004) Dasar-Dasar Pembelajaran, Jakarta Depdiknas
Margaret E. Bell Gredler, (1994) Belajar dan Membelajarkan, Jakarta, Raja Gafindo Persada
Martinis Yamin, (2007) Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, Jakarta, Gaung Persada Press
Masnur Muslich, (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Jakarta. PT Bumi aksara
Ridwan Effendi, Sapriya, Bunyamin Maftuh, (2009) Pengembangan Pendidikan IPS SD, Makalah pdf sebagai pegangan Belajar Jarak Jauh.
Rochiati Wiraatmadja, (2006), Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Roger G. Hadgraft, (1998), Problem-based Learning: A Vital Step
Towards a New Work Environment. Jurnal diakses tanggal 13 Februari 2010 dari : http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/ files/ijee/ijee1000.pdf
Saidihardjo, (2004) Pengembangan Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial, Yogyakarta UNY
Sardiman AM, (2004) Interaksi Motivasi dan Belajar Mengajar, Jakarta, Raja Garatindo
Suchaini,(2008) Pembelajaran Berbasis Masalah, Artikel diakses tanggal 11 Februari 2010 dari http://suchaini .wordpress.com/tag/teoripembelajaran.
Sudarman, (2007) Problem Based Learning:  Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan  Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah diakses tanggal 13 Februari 2010 dari http://jurnaljpi.files.wordpress.com/ 2009/09/vol-2-no-2-sudarman.pdf
Sudjatmiko dan Lili Nurlaili, (2004) Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta, Depdiknas
Suharsimi Arikunto. (2003). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sukardi (2005). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, Jakarta, PT Bumi Aksara.
Sumadi Suryabrata, (1990), Psikologi Pendidikan, Jakarta, CV Rajawali
Suprayekti, (2004) Interaksi Belajar Mengajar, Jakarta, Depdiknas
Tim Penulis Buku Psikologi Pendidikan, (1991) Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, UPP IKIP Yogyakarta
Undang-Undang (2003) UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Depdiknas RI , Jakarta
Udin S. Winata Putra, (Juni, 2008) Refleksi Tentang Konsep Dan Makna Ilmu Pengetahuan Sosial Sebagai “ Integrated Knowledge System” Makalah disajikan dalam “Stadium Generale” Program Pasca Sarjana Universitas PGRI Yogyakarta
Wikipedia,(2010) Problem based Learning, artikel diakses tanggal 11 februari 2010 dari http://en.wikipedia.org/wiki/problem-based-learning
Wahyudi, (2009) Pengertian Problem Based Learning, artikel diakses tanggal 23 Desember 2009 dari : http://wahyudiuksw.blogspot.com/ 2009/05/ pengertian-problem-based-learning.html
Wina Sanjaya, (2006) Strategi Pembelajaran, Jakarta, Kencana Prenada Group
-----------------, (2008) Kurikulum dan Pembelajaran , Jakarta, Kencana Prenada Group
Winkel, (1996) Psikologi Pengajaran,  Jakarta, Grasindo
Yudrik Jahja (2004) Wawasan Kependidikan, Jakarta, Depdiknas
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TELAGA ILMU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger