WAKTU KEHIDUPAN

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Pembelajaran Andragogie



PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
Oleh : Sudadi, M.Pd.

A. Konsep Andragogi

        Secara Etimologis Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Definisi kemudian dirumuskan sebagai "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar".
Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian "Social-pedagogy" yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, "Social-pedagogy" lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.
        Malcom Knowles mengembangkan konsep Andragogi didasarkan pada empat asumsi pokok yaitu : Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dari ketergantungan total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. Atau secara singkat dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri. Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak.
                     Asumsi kedua, sebagaimana individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique). Maka penggunaan teknik diskusi, kerja laboratori, simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai.
            Asumsi ketiga, bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung, secara implisit atau eksplisit, pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masayarakat. Karena itu, sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono, 1992). Selajan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang, maka kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan biologisnya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. Dengan perkataan lain, orang dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya.
          Asumsi keempat, bahwa anak-anak sudah dikondisikan untuk memiliki orientasi belajar yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered orientation) karena belajar bagi anak seolah-olah merupakan keharusan yang dipaksakan dari luar. Sedang orang dewasa berkecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan masalah kehidupan (problem-centered-orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya.
B. Prinsip-prisip dan Aplikasi Pembelajaran Andragogi
a. Prinsip-prinsip Pembelajaran Andragogi
       Jane Vella mengusulkan dua belas prinsip penting di dalam mengelola kegiatan belajar bersama orang dewasa, yaitu :
• Agar pengajar melakukan analisis kebutuhan (need assesment) peserta didik sebagai langkah awal untuk berdialog dengan mereka. Pengajar dapat memilih sejumlah wakil dari kelompok besar untuk memberikan informasi mengenai kebutuhan peserta didik, selain memberikan questionnaire kepada semua anggota.
• Agar pengajar menciptakan suasana nyaman (safety) ketika berinteraksi dengan peserta didik; dengan jalan tetap hargai pendapat mereka dan melakukan koreksi; juga mendengarkan isi hati mereka, kebingungan, kegelisahan dan sejenisnya. Istilah safety lebih terkait kepada aspek psikologis.
• Agar pengajar terus membina hubungan akrab dengan peserta didik di dalam ruangan atau di luarnya dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya mereka. Hubungan yang bersahabat antara guru dengan peserta didik harus mendapat tempat utama dalam kegiatan pembelajaran. Pengajar harus sadar bahwa ia tidak saja mengajarkan sesuatu kepada peserta didiknya, tetapi ia melakukan tugas pembelajaran diantara dan bersama mereka.
• Agar pengajar membawa peserta didik bertolak dari hal-hal sederhana kepada yang lebih kompleks; sequence pembelajaran harus jelas dari yang paling mudah kepada yang lebih bahkan sangat sukar. Ketika berhasil menguasai sebuah langkah ataupun konsep, pengajar patut menyatakan penghargaan bagi peserta didiknya, untuk menyiapkan atau tepatnya memotivasi mereka ke tugas berikutnya.
• Agar pengajar benyak melakukan aktivitas refleksi atas tindakan, atas kasus, atas simulasi sosial, atau atas tayangan yang disaksikan. Menurut Vella, kita dapat mengajukan empat pertanyaan untuk dipertimbangkan:
1. Apa yang Anda lihat terjadi (deskripsi)?
2. Mengapa hal itu terjadi (analisis)?
3. Jika hal itu terjadi dalam situasi Anda, apa penyebabnya (aplikasi)?
4. Apa yang dapat kita lakukan terhadap hal itu (implementasi)?
• Agar pengajar memandang peserta didik sebagai subjek dalam kegiatan belajar. Mereka bukan sebagai objek kosong yang harus dipenuhi informasi. Jika mereka diperlakukan sebagai subjek, maka pandangan, perasaan, sikap, opini mengenai bagaimana cara belajarnya yang tepat untuk mencapai hasil harus didengarkan dan difasilitasi. Peran pengajar bersama orang dewasa lebih berupa fasilitator pembelajaran.
• Agar pengajar senantiasa melibatkan dan menyentuh pikiran, perasaan dan sikap serta perbuatan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Peserta didik tidak datang ke dalam perjumpaan bersama guru dengan membawa tubuh dan pikiran belaka, tetapi juga menghadirkan perasaan dan sikap.
 • Agar apa yang dipelajari oleh peserta didik harus memiliki manfaat, relevan dengan hidup atau tugas sehari-hari. Walaupun yang dipelajari peserta didik hal-hal bersifat abstrak dan konseptual, namun pengajar dapat mengkaitkannya dengan situasi praktis atau dengan tugas dan tanggung jawab sehari-hari. Kalau orang dewasa melihat apa yang tengah dipelajari membawa manfaat, motivasi mereka berkembang.
• Agar pengajar mengembangkan dialog dalam pembelajaran, jika tidak demikian maka peran guru sebagai pengajar segera lenyap. Dialog menghendaki relasi kesahabatan juga kesediaan pengajar untuk menjadi satu level dengan peserta didiknya memperbincangkan masalah yang mereka hadapi.
• Agar pengajar membangun kerjasama diantara peserta didik dalam kelompok kecil (team work). Peran guru memfasilitasi dan memotivasi agar kelompok bekerja dengan optimal. Menurut hemat saya ini cocok dengan pola hidup orang di Indonesia, lebih termotivasi belajar bersama rekan-rekan yang mengenal, memahami, menerima, membangunnya.
• Keterlibatan (engagement) guru dalam kegiatan belajar bersama peserta didik membangun semangat belajar mereka. Belajar sebagai sebuah tindakan aktif dan keterlibatan. Kalau pengajar menugaskan sebuah kasus kepada kelompok kecil, ia juga harus terlibat bersama salah satu kelompok itu.
• Prinsip akuntabilitas merupakan kunci sukses belajar dan mengajar. Design pembelajaran seperti silabus harus terbuka kepada peserta didik, dapat distruktur ulang untuk mencapai tujuan. Apa yang disepakati untuk dilakukan mestilah dilaksanakan. Kegagalan maupun keberhasilan belajar dinyatakan secara terus terang namun bijaksana.


b. Aplikasi Pembelajaran Andragogi dalam Pembelajaran IPS

            Isi pendidikan  orang dewasa dapat digambarkan dengan mengaitkan antara kebutuhan dan tujuan individu. Misi setiap pendidik orang dewasa adalah membantu individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, membantu individu untuk mengembangkan sikap bahwa belajar itu adalah kegiatan yang berlangsung sepanjang hayat, dan dengan pendidikan itu dapat diperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja secara mandiri serta dapat mengembangkan potensi-potensi yang kita miliki. Dalam proses belajar ini dapat dimanfaatkan oleh orang dewasa untuk mengembangkan dirinya, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama dengan orang dewasa lainnya. Pendidik orang dewasa dalam merencanakan program pembelajarannya hendaknya didasarkan pada kebutuhan belajar yang diinginkan oleh orang dewasa, tanpa demikian pendidikan orang dewasa akan mengalami kegagalan.
            Penjabaran rancangan belajar ke dalam urutan kegiatan belajar memerlukan adanya pengambilan keputusan mengenai teknik dan bahan belajar apa yang paling bermanfaat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajarn. Dan selanjutnya menentukan strategi pembelajaran dengan mengikutsertakan peserta. Posisi pelatih dalam proses ini hanyalah sebagai pemberi saran dan sebagai narasumber.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran IPS, pembelajaran Andragogi dapat diaplikasikan dengan menggunakan metode diantaranya :
1. Presentasi. Teknik ini meliputi antara lain: ceramah, debat, dialog, wawancara, panel, demonstrasi, film, slide, pameran, darmawisata, dan membaca.
2. Tehnik Partisipasi peserta. Teknik ini meliputi antara lain: tanyajawab, permainan peran, kelompok pendengar panel reaksi, dn panel yang diperluas

3. Tehnik Diskusi Teknik ini terdidi atas diskusi terpimpin, diskusi yang bersumberkan dari buku, diskusi pemecahan masalah, dan diskusi kasus
4. Tehnik Simulasi . Tehnik ini terdiri atas : permainan peran, proses insiden kritis, metode kasus, dan permainan.

KESIMPULAN

        Dari uraian diatas dapat disimpulkan  tentang teori belajar andragogi dan aplikasinya dalam Pembelajaran IPS, yaitu :
1. Teori belajar andragogi yaitu Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.
2. Dalam pembelajaran IPS teori belajar Andragogi dapat diaplikasikan dengan menggunakan metode diantaranya :
a. Presentasi. Teknik ini meliputi antara lain: ceramah, debat, dialog, wawancara, panel, demonstrasi, film, slide, pameran, darmawisata, dan membaca.
b. Tehnik Partisipasi peserta. Teknik ini meliputi antara lain: tanyajawab, permainan peran, kelompok pendengar panel reaksi, dn panel yang diperluas
c. Tehnik Diskusi Teknik ini terdiri atas diskusi terpimpin, diskusi yang bersumberkan dari buku, diskusi pemecahan masalah, dan diskusi kasus
d. Tehnik Simulasi . Tehnik ini terdiri atas : permainan peran, proses insiden kritis, metode kasus, dan permainan.



DAFTAR PUSTAKA


Amalius Sahide. 1990. Pendidikan Orang Dewasa. Ujungpandang: FIP IKIP
Baharuddin dkk. 2007, Teori Belajar & Pembelajaran,Yogyakarta, Ar-Ruzz Media
Zainuddin Arif. 1984. Andragogi. Bandung: Angkasa.
http : // e learn. bpplsp- regs . go. Id
http : // www.matabumi.com/about-matabumi
http : / e-pendidkan.net/com.html
 

Pembelajaran : CTL

KONSEP PEMBELAJARAN
oleh : Sudadi, M.Pd.

Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)  ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.
 Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
         Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar .Interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran (Saidihardjo : 2004 : 13). Pembelajaran merupakan proses membuat orang belajar dengan merekayasa lingkungan untuk memudahkan orang belajar. Kegiatan pembelajaran berupaya merumuskan cara terbaik agar individu dapat belajar dengan mudah. Pendidik bukan hanya berfungsi memberikan materi saja melainkan memanfaatkan segala potensi lingkungan belajar (media, sumber informasi belajar, dan lainnya) bagi pencapaian tujuan belajar yang diharapkan.
         Pembelajaran yang berlaku saat ini berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing masing satuan pendidikan ( Buku Saku KTSP SMP : 2006:1). KTSP merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan dalam suatu aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. KTSP merupakan KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan standar isi dan standar kompetensi lulusan.  Dalam konteks implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan mengajar harus dimaknai tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran namun harus dimaknai sebagai proses mengatur lingkungan yang dengan lingkungan itu siswa terdorong dan terkondisi untuk belajar, pemahaman semacam ini sering disebut dengan pembelajaran.
         Bruce weil ( Wina sanjaya : 2008: 216-217) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran; pertama proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Kedua berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang dipelajari, yaitu pengetahuan : fisis, social dan logika. Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Dengan kata lain proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik Maka guru tidak lagi dipandang sebagai “orang yang paling tahu segalanya” melainkan banyak berperan sebagai fasilitator terjadinya proses belajar dan peserta didik secara kontinu berupaya meningkatkan kemampuannya. Oleh karena itu pemilihan metode pembelajaran harus dapat memberikan peluang pada peserta didik untuk aktif dan kreatif meningkatkan hasil belajar. Metode pembelajaran perlu menekankan keterampilan memproses agar peserta didik mampu menemukan, membangun, dan mengembangkan pengetahuan maupun kemampuan yang di miliki.
         Maka pembelajaran harus dimaknai sebagai proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula.
    Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  itu mempunyai karakter pokok pertama meningkatkan dan mendukung proses belajar siswa.kedua adanya interaksi yang dilakukan dengan sengaja. Interaksi ini terjadi antara siswa yang belajar dengan lingkungan belajar, baik dengan guru siswa lainnya atau sumber belajar lainnya.
    Dalam pembelajaran idealnya guru dapat menciptakan situasi yang kondusif serta memberi motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitasnya. Jadi pembelajaran dilihat dari sisi guru adalah menumbuhkan proses belajar siswa ,tidak hanya menyampaikan pelalajaran dan semata-mata mengejar target kurikulum. Karena mengajar adalah
mengatur dan mengkondisikan  lingkungan belajar siswa sehingga terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Agar kegiatan pembelajaran mampu mengembangkan dan meningkatkan kecakapan hidup peserta didik maka pembelajaran seharusnya : pertama, berpusat pada peserta didik, kedua mengembangkan kreativitas peserta didik, ketiga menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang, ke-empat, bermuatan nilai, etika, estetika, logika dan kinestetika, kelima, menyediakan pengalaman belajar yang beragam (Sudjatmiko dan Lili Nurlaili : 2004 : 11-12).
    Dalam teori belajar sosial , komponen – komponen pembelajaran adalah : mengenali model yang patut dikelas (2) menentukan nilai fungsional tingkah laku (3) menjalankan pengolahan kognitif pada si pebelajar (Margaret E. Bell Gredler: 1994 ; 403 ).     Adapun komponen pembelajaran kontekstual meliputi tujuh komponen utama yaitu (1) Constructivism / konstruktivisme, (2) Questioning / bertanya, (3) Inquiry / menyelidiki, menemukan, (4) Learning comunity / masyarakat belajar, (5) Modelling / permodelan, (6) Reflection / refleksi atau umpan balik dan (7) Authentic Assessment / penilaian yang sebenarnya (Masnur Muslich : 2007 : 43).
        Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
              Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
              Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
        Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
        Permodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
        Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
        Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhir periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. Selain tujuh komponen diatas agar pembelajaran dapat guru dituntut mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menanatang, relevan, berkaitan dengan apa yang sudah diketahui siswa dan bisa dicapai, pinjam istilah Vygotsky(1978) ”Zona Perkembangan Proximal” .(Barbara K Given : 2007 : 60). Membangun suasana kelas yang sejuk dan menyenangkan hal ini sangat besar pengaruhnya untuk membangkitkan kemauan atau motivasi anak untuk mengikuti pembelajaran dengan baik (Hery Sukarman : 2004 : 18).
 

Uji Validitas dan Reliabilitas

ANALISIS VALIDITAS DAN RELIABILITAS
INSTRUMEN PENELITIAN


oleh :  Sudadi, M.Pd.
   
      
Suharsini Arikunto (2002:160) menjelaskan bahwa instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting, yaituvalid dan reliable. Untuk menyatakan baik dan tidaknya  instrumen, maka perlu diadakan pengujian validitas dan reliabilitasnya.
a. Uji validitas instrumen
Sutrisno Hadi (1991 : 1) berpendapat bahwa :
Kesahihan atau validitas dibatasi sebagai tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan instrument tersebut. Suatu instrumen  dinyatakan sahih jika instrument itu mengukur apa saja yang hendak diukurnya, mampu mengungkapkan apa saja yang ingin diungkapkan, mampu menembak dengan jitu sasaran yang ditembak.

     Berkaitan dengan validitas ini, Sutrisno Hadi (2000 :111-116) mengemukakan jenis validitas ini sebagai berikut :
1) Face validity bagaimna kelihatannya alat ukur benar-benar mengukur apa yang hendak diukur
2) Logical validity yaitu konsep validitas yang bertitik tolak dari kontruksi teoritik tentang factor factor yang hendak diukur oleh alat ukur, maka validitas logical sering disebut construct validity, kebenaran alat ukur ditinjau dari segi kecocokannya dengan teori sebagai fundamentalnya.
3) Factorial validity
4) Conten validity
5) Empirical validity yaitu validitas alat ukur yang menggunakan kriterium bagaimana derajat kesesuaian antra apa yang dinyatakan oleh hasil pengukuran dengan keadaan senyatanya.
Sutrisno Hadi (2000 : 124) mengemukakan alasan dipergunakannya analisis butir yaitu untuk mengetahui :
1. Apakah suatu item dapat dipertahankan atau tidak.
2. Jika suatu item tidak dapat dipertahankan dalam baterai lat ukur, maka item itu dapat gugur sama sekali atau diperbaiki.
    Dalam analisis butir digunakan rumus korelasi product moment dari Karl Pearson  seperti yang dikemukakan Sutrisno Hadi (1991 : 23) sebagai berikut :
          
Apabila angka korelasi momen tangkar rxy telah didapat, langkah selanjutnya adalah mengoreksi korelasi momen tangkar rxy tersebut menjadi korelasi bagian total rpq (r bagian total) dengan rumus sebgai berikut :

Selanjutnya untuk menentukan valid tidaknya item, perolehan angka rxy hitung dibandingkan dengan tabel r product moment pada taraf signigfikansi 5 % dan N = n-2 dengan ketentuan jika rxy hitung  lebih besar dari rxy table maka item tersebut sahih, sebaliknya jika rxy hitung lebih besar dari rxy tabel maka item tersebut dinyatakan tidak sahih atau gugur.

b. Reliabilitas instrument
Instrument yang baik disamping harus valid juga harus variable. Suharsini Ari Kunto (2002 : 168) menyatakan, reliabilitas artinya dapat dipercaya, dapat diandalkan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dikatakan variable bila memberikan hasil yang tetap atau ajeg walaupun dilakukan siapa saja dan kapan saja.
Uji reliabilitas instrument dapat mengemukakan rumus Alpha.

Langkah selanjutnya adalah menafsirkan angket koefisien reliabilitas. Sedangkan untuk mengetahui tingkat keandalannya berpedoman pada penggolongan berikut :
Antara 0,800 sampai dengan 1,00 = sangat tinggi
Antara 0, 600 sampai dengan 0,800 = cukup
Antara 0,400 sampai dengan 0,600 = agak rendah
Antara 0, 200  sampai dengan 0,200 = sangat rendah
                                               (Suharsimi Arikunto, 2002: 245)


DAFTAR PUSTAKA
Suharsimi Arikunto, 1998, Prosedur Pemnelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi, (1991) Analisis Butir Untuk Instrumen, Yogyakarta,Andi Offset
    
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TELAGA ILMU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger